Diduga Wakil Pimpinan Teroris di Maluku, Ustad Ahzam Ditahan
Sabtu, 26 Nov 2005 23:08 WIB
Ambon - Diduga menjadi wakil Ustad Bahtar, pimpinan teroris di Maluku, Ustad Ahzam, Koordinator Pesantren Al Mujahid Desa Haya ikut ditahan pihak Polda Maluku. Pesantren ini didirikan Ustad Bahtar tahun 2001, saat situasi Maluku dalam konflik. Sebelumnya, Ahzam sempat ditahan Polda Maluku tiga bulan lalu setelah dicurigai mengetahui keberadaan Ustad Arsyad, salah satu otak pelaku penyerangan pos Brimob di desa Lokki Kecamatan Piru Kabupaten Seram Bagian Barat. Akan tetapi, karena kekurangan barang bukti, sang Ustad kembali dilepaskan. "Memang dulunya kita belum punya bukti untuk menahannya. Namun sekarang kami sudah punya bukti untuk menahannya," kata Kapolda Maluku, Brigjen Adityawarman kepada pers di Mapolda Maluku, Jl Rijali Ambon, Sabtu (26/11/2005).Kapolda juga mengungkapkan, pihaknya sudah beberapa bulan terakhir ini menaruh curiga terhadap aktivitas Ustad Ahzam. Namun karena belum memiliki cukup bukti yang bersangkutan dibiarkan bebas. Saat diperiksa tadi malam di Mapolda Maluku, Ustad Ahzam memiliki kartu tanda penduduk (KTP) yang dikeluarkan Kecamatan Tehoru. Sayangnya setelah diselidiki, KTP itu palsu. Kendati demikian, Kapolda belum berani memastikan Ustad Ahzam adalah wakil dari Ustad Bahtar. "Kami masih menduganya. Nanti hasil penyidikan kami," ujarnya.Hal yang sama dialami Bambang Wiyono alias Wiyono, salah satu warga yang kini memiliki identitas warga Desa Haya, ia pun ditahan Polda Maluku. "Dia juga pernah kami tahan. Tapi di Mapolres Maluku Tengah karena diduga terkait jaringan teroris," kata Kapolda.Menurut informasi intelijen, lanjut Kapolda, usai dilepaskan pihak Polres Malteng, aktivitas Bambang semakin meningkat. Sayang, Kapolda tidak merinci kegiatan seperti apa yang dilakukan Bambang.Sementara itu, salah satu warga desa Haya yang ditemui detikcom di Ambon mengatakan, sebagian besar warga pendatang (bukan warga Haya) bekerja sebagai petani dan guru mengaji. Sebagian lagi kerja serabutan. "Mereka bekerja apa yang bisa mereka kerja. Ada guru mengaji, ada petani dan lain-lain," ujar Taufik Namakule, salah satu mahasiswa Universitas Pattimura Ambon yang juga warga Desa Haya.Usai penangkapan Syarief dan penahanan ke-12 warga tersebut, pihak Detasemen 88 plus Brimob BKO dan Polres Malteng langsung melakukan penyisiran ke Gunung Waimanawa, yang dijadikan sebagai lokasi latihan perang Laskar Mujahidin sejak 2001 lalu. Namun hasil penyisiran itu tidak menemukan apa-apa. "Hanya ada sebuah gubuk yang masih kokoh, dan bekas-bekas seperti latihan perang," ujar salah satu personil Polres Malteng kepada detikcom yang enggan menyebut namanya.
(ddn/)











































