Azahari, Amrozi dan Imam Samudra Pernah Tinggal di Desa Haya

Azahari, Amrozi dan Imam Samudra Pernah Tinggal di Desa Haya

- detikNews
Sabtu, 26 Nov 2005 16:11 WIB
Ambon - Penangkapan Briptu Syarief Tarabubun, salah satu tersangka otak penyerangan Villa Karaoke desa Hative Besar, Kecamatan Baguala, Ambon, di desa Haya turut membuka kembali file lama sepak terjang sejumlah gembong teroris di Indonesia. Ternyata, Azahari, Amrozi, dan Imam Samudra pernah tinggal di Desa Haya. Hal ini diungkapkan Kapolda Maluku Brigjen Pol Adityawarman kepada sejumlah wartawan di Mapolda Maluku, Jl Rijali Ambon, Sabtu (26/11/2006). "Dari data yang kami miliki, Imam Samudra pernah tinggal di desa Haya tahun 2001. Persis situasi Maluku dalam konflik," ungkap Kapolda.Dikatakan Kapolda, desa Haya memang selama ini menjadi target polisi guna menangkap orang-orang yang diduga terkait jaringan teroris. "Desa Haya itu tempat aktivitas ustad Bahtar. Dia ini pimpinan jaringan teroris di Maluku dan sempat bertemu atau berhubungan dengan Imam Samudra dan pelaku teroris lainnya," jelas Kapolda. Sementara dari keterangan warga Haya, bukan cuma Imam Samudra, sebenarnya Amrozi dan Dr Azahari pun sempat tinggal di desa Haya. "Kalau dari foto yang disebarkan, Dr Azahari dan Amrozi dulunya juga tinggal di Haya. Kami sempat diajarkan latihan perang. Tiap pagi olahraga lari ke pantai maupun gunung," ungkap salah satu warga Haya kepada detikcom dan minta identitasnya tidak dipublikasikan.Menurut dia, baik Imam Samudra, Amrozi dan Dr Azahari sudah berada di Haya sejak pecah konflik Maluku atau sekitar Februari 2001. "Saya dulunya masih sekolah SMA dan sempat diajarkan ngaji dan latihan perang," ujar sumber ini.Desa Haya inilah yang menjadi lokasi persembunyian Syarief Tarabubun. "Yang bersangkutan sudah kita lacak selama sembilan bulan. Kita baru tahu setelah dapat laporan dari masyarakat yang mengenal persis Syarief," ujar Kapolda. Terkait keberadaan Ustad Bahtar yang selama ini juga menjadi daftar pencarian orang (DPO) polisi, Kapolda Maluku juga mengaku, pihaknya masih melacak keberadaannya. "Saya yakin dia, masih ada di Maluku. Dan kami akan terus melacak keberadaannya," tegas Kapolda.Selain itu, dari penangkapan 12 warga saat penangkapan Syarief, 10 warga lainnya tanpa membawa dokumen kependudukan. Bahkan dari raut wajahnya, ke-10 orang ini bukanlah warga Haya atau warga Maluku. "Ada beberapa nama yang yang sudah kita kantongi dan kita cocokkan dengan jaringan para pelaku teroris di Indonesia. Saat ini sedang kita proses. Mabes Polri meminta data-data mereka," ujar Kapolda lagi.Sementara itu, buntut penangkapan Syarief dan digelandangnya ke-10 warga tanpa identitas itu, salah seorang warga Haya yang berhasil dihubungi detikcom mengatakan sudah ada komitmen semua warga desa Haya untuk tidak menerima mereka kembali. "Saya baru kontak ke Haya pagi tadi, dan sudah ada kesepakatan warga untuk tidak menerima ke-10 orang itu. Ini memberikan citra yang tidak baik kepada masyarakat Haya umumnya dan pengembangan desa Haya nanti," tandas Abidin Namakule, kepada detikcom melalui saluran telepon satelit. (asy/)


Berita Terkait