Harga BBM Naik, Aspek Indonesia Tuntut Kenaikan Gaji 25%
Sabtu, 26 Nov 2005 12:55 WIB
Jakarta - Kenaikan harga BBM awal Oktober lalu terus menyisakan keprihatinan. Setelah nyaris 2 bulan berjalan, dampaknya semakin dirasakan pekerja/pegawai. Paling mencolok adalah kenaikan biaya hidup yang hampir mencapai 50 persen dibanding sebelumnya."Orang-orang atau pegawai yang bergaji antara Rp 1 juta-Rp 3 juta itu yang paling terjepit akibat kenaikan harga BBM," kata Sekjen Asosiasi Serikat Pekerja (Aspek) Indonesia Yanuar Rizky dalam diskusi Dampak Kenaikan Harga BBM di Gedung Bank Permata, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Sabtu (26/11/2005).Daya beli pekerja/pegawai yang berpenghasilan Rp 1 juta-Rp 3 juta ini turun minimum 48 persen. Karena itu, imbuh Yanuar, sudah saatnya pemerintah memikirkan adanya penyesuaian pendapatan (gaji) pekerja/pegawai.Setidaknya kenaikan pendapatan tersebut harus 48 persen. Namun hal ini kemungkinan sulit dilakukan setelah melihat kondisi ekonomi saat ini. Selain itu juga disadari perusahaan tidak dapat menaikkan pendapatan pegawainya seketika.Namun jika penyesuaian itu tidak segera dilakukan, maka pegawai atau pekerja akan kehilangan daya belinya. "Minimal kita minta adanya penyesuaian sebesar minimum 25 persen dari pendapatan saat ini," kata Yanuar.Sebab, pegawai yang berpenghasilan Rp 1 juta-Rp 3 juta, sebelum kenaikan harga BBM, sebesar 100 persen dari penghasilannya sudah dikeluarkan untuk biaya konsumsi. Karena itu, Aspek Indonesia mengusulkan adanya mekanisme pemberlakuan penyesuaian indeks biaya hidup serta meminta pemerintah menyelesaikan penyesuaian biaya hidup yang menyentuh aspek riil kehidupan pekerja. Aspek Indonesia juga meminta pemerintah aktif duduk bersama dalam pembahasan tripartit antara pihak pekerja, pengusaha dan pemerintah.
(umi/)











































