Hari-hari Sannari Bertahan Hidup di Gubuk Reyot Maros

M Bakrie - detikNews
Selasa, 21 Jan 2020 15:15 WIB
Foto: Sannari sehari-hari tinggal di gubuk reyot (M Bakrie/detikcom)
Maros - Sejak lahir, Sannari (43), bertahan di rumah bak gubuk reyot di Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel). Meski tercatat sebagai keluarga miskin, Sannari tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Sannari hidup seorang diri dalam rumah yang beratapkan daun nipah itu. Rumah ini tidak pernah diperbaiki.

"Sejak lahir saya sudah di rumah ini dan seingat saya, ini rumah memang tidak pernah diperbaiki karena keluarga kami memang sudah susah. Saya dua orang bersaudara, saya anak kedua dan tidak pernah menikah," katanya saat ditemui detikcom, Selasa (21/1/2020).


Hari-hari Sannari Bertahan Hidup di Gubuk Reyot Maros Foto: Sannari sehari-hari tinggal di gubuk reyot (M Bakrie/detikcom)

Kondisi rumah Sannari sudah mengkhawatirkan. Kerusakan terlihat jelas di bagian atap, dinding dan lantai. Tiang rumah sudah lapuk.

"Mungkin sudah lebih 60 tahun karena rumah ini dibangun oleh nenek saya sebelum saya lahir. Karena tidak pernah diperbaiki, makanya semuanya rusak. Satu-satunya yang tidak basah kalau hujan itu hanya di tempat tidur saja," tutur Sannari.

Tak ada perabotan yang berharga di rumah Sannari. Satu-satunya barang elektronik yang Sannari miliki hanya radio tua yang kerap dinyalakan saat suntuk. Sedangkan untuk kebutuhan listrik, Sannari meminta sambungan dari tetangga samping rumahnya.

Beberapa tahun lalu, Sannari rutin membantu warga memotong padi saat musim panen. Selain untuk pemenuhan stok beras selama satu tahun, sebagian gabah dari hasil potong padi itu dijual untuk kebutuhan sehari-hari.




Sejak maraknya penggunaan mesin pemotong padi, Sannari hanya bisa gigit jari. Dia hanya bisa membantu warga menjemur gabah yang upahnya tidak seberapa ketimbang pekerjaannya dulu.

"Dulu saya itu pergi potong padi. Sekarang sudah susah karena ada mobil pemotong padi itu. Paling tenaga saya hanya dipakai untuk menjemur gabah saja. Hasilnya memang sedikit dari pada dulu waktu masih pakai tangan orang. Kalau untuk lauk, saya biasanya pergi mancing di empang," tuturnya.

Kondisi ini jadi perhatian, Tairah, guru PAUD di wilayah itu. Tairah berkali-kali meminta pemerintah setempat untuk memberikan bantuan, seperti bedah rumah. Namun, sejak tahun 2012, permintaannya tidak pernah digubris.

Hari-hari Sannari Bertahan Hidup di Gubuk Reyot Maros Tak cuma dinding, atap gubuk Sannari pun banyak berlubang (M Bakrie/detikcom)

Tairah berharap, pemerintah setempat segera memberikan perhatian ke Sannari yang selama ini tidak mendapatkan haknya sebagai warga miskin yang seharusnya dijamin.

Sementara itu, pihak Kelurahan Bontoa, mengatakan sudah beberapa kali mengajukan bantuan untuk Sannari. Namun belum juga terealisasi.

"Tapi kami juga tidak tahu kenapa sampai saat ini belum terealisasi. Secepatnya kami akan berkoordinasi kembali agar warga kami itu bisa dapat bantuan," kata Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Bontoa, Ardhy Mochtar.



Simak Video "Banjir Bandang di Soppeng Sulsel, Rumah Warga Hanyut"

[Gambas:Video 20detik]

(fdn/fdn)