Jenazah ABK Asal Enrekang Dilarung ke Laut Lepas, Begini Aturannya

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Selasa, 21 Jan 2020 11:30 WIB
Foto: Meninggal saat berlayar, jasad ABK asal Enrekang dibuang ke laut (dok. Istimewa)
Jakarta - Seorang anak buah kapal (ABK) asal Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel), Muh Alfatah M (20), meninggal dunia saat berlayar. Jenazah Alfatah dibuang ke laut atau dilarungkan atas pertimbangan kesehatan. Bagaimana sebenarnya aturan soal pelarungan jenazah ABK yang meninggal di atas kapal?

Sebagaimana diketahui, keluarga korban telah menerima surat kematian Alfatah. Dalam surat yang diterima keluarga korban, disebutkan bahwa korban awalnya sedang tidak enak badan dengan gejala kaki dan wajah bengkak, napas pendek, serta dada nyeri saat berlayar menggunakan kapal Long Xing 692 di Apia, negara Kepulauan Samoa.

"Iya ada surat (terkait kabar kematian korban). Keluarga sudah salat gaib dua (hari) yang lalu," ujar sepupu korban, Khairil (23), kepada wartawan, Senin (20/1/2020).


Masih dalam surat yang diterima keluarga korban, disebutkan korban dipindahkan ke kapal Long Xing 802 lantaran kapal tersebut bakal berlabuh di Samoa sehingga korban dapat dirujuk ke rumah sakit. Namun korban dinyatakan meninggal setelah delapan jam setelah dipindahkan ke kapal Long Xing 802.

Jenazah korban akhirnya dibuang ke laut atau dilarungkan dengan alasan kapten kapal khawatir jenazah Alfatah menimbulkan penyakit menular yang bakal menjangkiti kru lainnya.

Lalu, bagaimana aturan yang mengatur soal ABK yang meninggal di atas kapal ini? Merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) No 7 Tahun 2000 Tentang Kepelautan, seorang ABK memiliki beberapa hak, dari santunan kematian hingga pemulangan jenazah.
Selanjutnya
Halaman
1 2