RI Sudah Bisa Beli Senjata Mematikan dari AS
Jumat, 25 Nov 2005 18:33 WIB
Jakarta - Indonesia sudah bisa secara penuh membeli peralatan militer dari AS, termasuk senjata mematikan. Namun hal itu tergantung kemampuan anggaran negara."Itu sudah bisa, tapi tergantung kemampuan anggaran saja memilih yang mana senjata yang mematikan, atau pesawat angkut yang sifatnya untuk kemanusiaan," kata Menhan Juwono Sudarsono.Menhan mengungkapkan hal itu usai menerima Dubes AS untuk RI B Lynn Pascoe di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (25/11/2005).Menhan juga menjelaskan, AS memang tidak memberikan syarat atau kondisi tertentu atas pemulihan hubungan RI dan AS, termasuk pencabutan embargo. Hanya saja RI perlu mempertimbangkan atau memprioritaskan pembelian alutsista yang disesuaikan dengan anggaran.Untuk 5-10 tahun ke depan, RI telah memprioritaskan untuk mengembangkan atau membeli pesawat angkut Hercules. Kemungkinan sebanyak 70 persen dari perencanaan alokasi anggaran adalah untuk pesawat transportasi. Sebab pesawat transportasi seperti Hercules, selain memiliki fungsi militer untuk gelar pasukan, juga bisa berfungsi untuk kepentingan nonmiliter, seperti mengangkut bantuan dalam musibah bencana alam.Dengan dicabutnya embargo, RI akan segera merealisasikan secepat mungkin pembelian alutsista untuk TNI. Saat ini perencanaannya sedang dikaji oleh Dirjen Strategi Pertahanan, Dirjen Rencana Sistem Pertahanan dan Dirjen Sarana Pertahanan untuk menindaklanjuti secara teknis peralatan apa yang akan dikembangkan, dan bagaimana prosedur pelaksanaannya.Indonesia juga akan mengkaji ulang tawaran penjualan alutsista dari negara-negara lain yang lebih murah, seperti dari Rusia, Cina, Spanyol, Jepang dan Korsel. Di sisi lain, Indonesia juga akan mengkaji ulang, apakah akan mencampurkan sistem pesawat tempur F-16 dengan pesawat tempur Sukhoi, atau mendahulukan salah satu di antaranya."Sebaliknya mungkin bila iklim politik di AS berubah, mungkin lebih baik kita pindah ke Sukhoi," katanya.Saat ini pihaknya, imbuh Menhan, sedang mengkaji paket yang paling baik berdasarkan keperluan alutsista angkatan yang bersangkutan, yang disesuaikan dengan kemampuan alokasi dana negara untuk pertahanan.Untuk pesawat tempur jenis F-16 yang sempat dibeli namun tertahan di AS karena embargo, RI akan segera mengirim tim teknis untuk meninjaunya, apakah masih layak atau tidak."Kita kaji apa layak untuk dihidupkan lagi atau sudah terlanjur kadaluwarsa, kita akan hibahkan saja kepada siapa pun," katanya.
(umi/)











































