Dirut Pertamina Terkaget-kaget Soal Berita Kenaikan Elpiji
Jumat, 25 Nov 2005 15:25 WIB
Jakarta - Dirut Pertamina Widya Purnama mengaku terkaget-kaget atas munculnya berita soal kenaikan harga elpiji. Ia pun mengaku sudah menegur pejabat Pertamina yang mengumumkan rencana kenaikan harga elpiji itu, karena masalah itu belum diputuskan."Hari ini saya diteleponin orang-orang nih soal elpiji. Nah, saya juga kaget. Soalnya ini semua masih dikaji. Saya sudah tegur orang itu tuh," kata Widya.Ia menyampaikan hal tersebut dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Perwira, Jakarta, Jumat (25/11/2005).Menurut Widya, soal kenaikan elpiji itu masih dikaji dan belum diambil keputusan berapa besarannya. "Lagian juga harga minyak kan turun naik. Jadi bisa saja harga elpiji itu malah turun," ujar pria yang kental dengan logat Betawinya ini.Perihal kenaikan harga elpiji ini sebelumnya disampaikan oleh Asisten Manajer Pemasaran Elpiji Pertamina, Rosidi Hasyim, di sela acara pelatihan wartawan di Anyer, Banten, Kamis (24/11/2005).Rencananya, harga elpiji yang selama ini Rp 4.250 per kilogram bakal naik menjadi Rp 5.500 hingga Rp 6.000 per kilogram. Dengan kenaikan menjadi Rp 6.000 per kilogram itu, Pertamina bakal memperoleh untung Rp 100-Rp 200 per kilogram.Menurut Rosidi, kenaikan harga gas elpiji ini tidak bisa dihindarkan, karena Pertamina rugi terus. Pada September lalu saja, kerugian mencapai Rp 27 miliar.Widya pun menepis anggapan bahwa kenaikan harga elpiji ini merupakan salah satu upaya Pertamina mencapai target laba dua kali lipat pada tahun 2006."Wah ini sih nggak ada hubungannya. Keuntungan dari elpiji itu kecil, seberapa sih. Kita kan untungnya bukan dari elpiji," ujarnya enteng.Ia mengakui bahwa penjualan elpiji Pertamina memang mengalami kerugian. Namun berapa angkanya, Widya menolak menjelaskannya. "Ya, seperti yang Anda tulis itulah," tandas pria yang biasa berbicara blak-blakan ini.Sementara Direktur Pengolahan Pertamina Soeroso menjelaskan, sebenarnya harga elpiji tidak hanya ditentukan oleh fluktuasi harga minyak di pasar internasional. Namun yang lebih berpengaruh pada harga adalah tingginya permintaan masyarakat terhadap elpiji."Makin tinggi demand, harga akan makin naik. Karena elpiji ini belum sepenuhnya kita produksi sendiri, tapi sebagian masih impor," ujar Soeroso.
(qom/)











































