Elpiji Naik: Curiga Gaji DPR Naik Sampai Tolak Bayar Pajak
Jumat, 25 Nov 2005 11:29 WIB
Jakarta -
Rencana kenaikan harga elpiji membuat mayoritas rakyat berang. Ada yang curiga DPR akan memanfaatkan moment itu untuk meminta kenaikan gaji. Ada pula yang memprovokasi agar rakyat tidak usah lagi membayar pajak.Demikian suara sejumlah masyarakat lewat email yang terus membanjiri detikcom, Jumat (25/11/2005).Kecurigaan DPR akan meminta kenaikan gaji akibat kenaikan harga elpiji disuarakan oleh, salah seorang pembaca detikcom, Marga. Bagi Marga, kenaikan harga elpiji setelah kenaikan harga BBM menunjukkan pemerintah sudah tidak mempunyai nurani lagi. Marga mengaku menyesal memilih duet Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla saat Pemilu lalu. "Apa yang mereka janjikan bohong semua. Kenaikan harga elpiji ini jelas-jelas membunuh rakyat kecil (kami) secara pelan-pelan. Atau ini akan menjadi acuan lagi bagi dewan terhormat kita di DPR untuk naik gaji," tulis Marga.Jaya dalam emailnya juga berpendapat pemerintah tidak punya empati kepada rakyat kecil. Rakyat Indonesia kebanyakan penghasilannya hanya sesuai UMR (upah minimum regional) yakni Rp 700.000. Jaya memerinci dari penghasilan tersebut untuk ongkos angkot saja memerlukan Rp 6.000 X 25 hari = Rp.150.000. Untuk makan siang Rp 4.000 X 25 hari = Rp 100.000 (makan hanya sayur, tahu dan tempe). Untuk kontrakan Rp 250.000 per bulan. Sisanya Rp 200.000. "Mana mungkin cukup untuk listrik, makan anak dan istri, anak sekolah perlu ongkos dan SPP?" keluh Jaya. Dia lantas mengritik pemerintah menaikkan harga BBM yang mengacu pada harga BBM di luar negeri. Menurutnya, seharusnya harga BBM disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia."Selama ini yang ditonjolkan hanya harga BBM di luar negeri, terus bagaimana upah minimum rakyat Indonesia ? Harusnya disesuaikan juga sama luar negeri juga dong," kata Jaya.Purwiyanto menilai pemerintah selalu mengorbankan rakyat dalam mengambil kebijakan. "Dengan rencana kenaikan Elpiji, menurut saya, itu menunjukkan pemerintah saat ini lemah. Tidak kreatif. Mencari solusi tapi korbannya rakyat," tulis Purwiyanto. Edy Wijaya menyarankan masyarakat agar memboikot bayar pajak terkait kenaikan harga elpiji. Kemampuan masyarakat sudah terlalu berat untuk menanggung dampak kenaikan harga elpiji."Gila banget, akibat kenaikan harga BBM, makanan yang dulu Rp 5 ribu naik seribu, yang Rp 10 ribu naik Rp 2.000. Mereka masak pakai elpiji tuh. Sekarang elpiji naik lagi, makanan naik berapa? Kalau ada tukang pajak mau minta pajak, kita palakin aja," kata Edy. Sementara Yulidar malah mendoakan agar para pemimpin negara mendapatkan azab karena tidak mau memikirkan nasib rakyat kecil. Harga elpiji pertabung Rp 72 ribu bagi para pejabat mungkin tidak ada artinya. Tapi bagi rakyat kecil harga tersebut terlalu mahal dan sangat mempengaruhi ekonomi mereka. "Ya Allah musnahkanlah pemimpin-pemimpin kami yang zolim agar negara ini tidak semakin hancur.Doa orang yang teraniaya itu sangat dikabulkan oleh Allah," ucap Yulidar.
(iy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































