Round-Up

Cerpen Denny JA Jawab Isu Minta Posisi

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 17 Jan 2020 06:32 WIB
Denny JA (Antarafoto)
Jakarta - Konsultan politik Denny Januar Ali dirundung isu minta jabatan Komisaris PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Pendiri Lingkar Survei Indonesia (LSI) Denny JA ini pun menjawabnya lewat cerita pendek (cerpen).

Isu Denny JA minta jabatan berembus dan ramai beredar setelah pengurus Partai Gerindra, Iwan Sumule, membuat postingan di akun Twitter-nya, @IwanSumule86. Iwan menulis soal dugaan Denny JA salah kirim pesan WhatsApp yang seharusnya dikirim ke Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Iwan menyebut Denny JA minta jabatan kepada Luhut sebagai balas jasa memenangkan Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019.

"Nyasarnya "WA" pemilik lembaga surpay ternama kpd Menko, tanda adanya rekayasa surpay di pilpres lalu. Pemilik surpay menuntut jabatan sebagai balas jasa menangkan pilpres. Suap kpd komisioner @KPU_RI pun tanda adanya kecurangan di pemilu lalu. Iya gak sih?" tulis Iwan dalam akun Twitter-nya, Rabu (15/1/2020).


Iwan juga mengunggah hasil tangkapan layar pesan WhatsApp tersebut. Di tangkapan layar itu, tertera ada nama Denny JA. Berikut ini isi pesannya:

Komandan, Pak Luhut yang baik
Semoga tahun baru membawa berkah baru.

FOLLOW UP yang sudah kita diskusikan tempo hari. Masih adakah kemungkinan dan kabar soal kemungkinan saya menjadi komisaris di Inalum?

Sudah ada jawaban dari Erick Tohir?

Saya cepat belajar dan get things done.

Banyak yang bisa saya kerjakan di sana, untuk mengeksplor soal tambang kita, menarik investasi, termasuk mensumulasi kepala daerah wilayah tambang, yg banyak juga sudah saya menangkan selama di LSI.

Komandan dapat meyakinkan Erick Tohir atau Jokowi, saya bisa membantu komandan soal investasi soal tambang, di posisi komisaris. Terbukti pula saya sudah berhasil membantu komandan ikut memenangkan Jokowi dua kali: 2014; 2019.

Sangat ditunggu arahan pak Luhut berikutnya.

Denny JA
Di grup Tokoh Nasional
Jam 07:08 wib, 14/1/2020




Denny JA Jawab Isu Lewat Cerpen

Denny JA kemudian membuat klarifikasi soal isu 'minta jabatan' ini dalam bentuk cerpen di fanpage Facebooknya. detikcom mendapatkan izin dari peneliti LSI Adjie Al Faraby untuk mengutip klarifikasi tersebut.

Dalam klarifikasinya, Denny JA menyebut pesan itu sebagai gosip yang diviralkan. "Pastilah sebagian masyarakat ini kehilangan isu besar. Gosip pun dijadikan isu. Tanpa cek and rechek lagi, gosip itu diforward kemana-mana. Dan viral pula," ujar Denny JA dalam klarifikasinya, Rabu (15/1/2020).

Denny JA juga sempat menyinggung isu lama yang juga pernah menerpanya pada Pilpres 2019. Yakni soal isu yang menyebut dirinya dibayar 45 milyar oleh Jokowi agar bisa mengalahkan Prabowo Subianto.

Berikut ini isi klarifikasi lengkapnya:

KETIKA GOSIP KOMISARIS BUMN PUN DIJADIKAN ISU

Klarifikasi Denny JA Dalam Bentuk Cerpen😁

"Pastilah sebagian masyarakat ini kehilangan isu besar. Gosip pun dijadikan isu. Tanpa cek and rechek lagi, gosip itu diforward kemana- mana. Dan viral pula."

Itulah responnya yang pertama ketika membaca teks di WA. Dengan senyum, sambil menyerumput kopi, ia baca sekali lagi pesan beruntun di ponselnya.

Diberitakan, WAnya ke salah satu mentri bocor. Ia menawarkan diri menjadi komisaris salah satu BUMN. Entah apa yang salah? Atau apa yang penting dari soal itu hingga dijadikan isu yang viral?

Dalam hidupnya sebagai aktivis, tak sekali ia menerima gosip itu. Sebelumnya di era Pilpres 2019, ia dikabarkan menerima uang dari Jokowi sebesar 45 Milyar rupiah untuk memenangkan Jokowi mengalahkan Prabowo.

Waktu itu, Ia santai saja menjawab. "Itu fitnah karena angka 45 Milyar kok kecil sekali. Padahal saya TIDAK sedang banting harga."


Sebagai konsultan politik yang ikut memenangkan presiden tiga kali berturut- turut (kini empat kali), apa
Iya saya dibayar hanya 45 milyar?" Celotehan santai darinya saat itu terasa pas. Agaknya lebih efektif merespon gosip politik dengan celotehan saja.

Apa daya. Ia tumbuh sebagai aktivis. Berdebat di publik menjadi nafasnya. Berdebat dengan data, angka dan hasil riset memang hobinya. Tapi berceloteh pun oke juga.

Sejak lama, Ia memang rindu. Ia berharap ruang publik lebih diisi oleh debat gagasan. Ia ingin para elit heboh oleh inovasi. Ia angankan kembali datang era berpolitik gaya Founding Fathers yang pejuang tapi juga pemikir.

Tapi yang marak dan heboh di ruang publik, acapkali hanya soal skandal tokoh, gosip dan hoax. Apa daya.

Ia teringat teks WA yang Ia terima semalam. Isi WA itu gosip tentang dirinya. Ia digambarkan seolah berkomunikasi dengan seorang menteri untuk jabatan komisaris BUMN.

Ia forward gosip itu ke beberapa, hanya untuk info. Ternyata, itu malah diforward beberapa kali oleh mereka yang senang bergosip ke aneka grup. Tanpa ada check and rechek dan mengelaborasi konteksnya dulu.

Di era media sosial, apapun mudah menjadi isu. Apalagi jika masyarakat yang kehilangan isu besar. Gosip pun menjadi isu. Lebih sensasional lebih asyik. Tak penting benar atau salah.

Ia teringat lirik lagu Michael Jackson: Beat it! beat it! No matter who is wrong or right. Just beat it!



-000-

Apa yang salah dengan seseorang yang ingin berperan ikut memajukan negaranya dengan mengajukan diri menjadi komisaris BUMN? Bukankah itu memang jabatan terbuka yang bisa diisi siapa saja yg kompeten?

Apa yang salah orang yang mengajukan diri menjadi rektor, menjadi menteri, menjadi direktur TV, menjadi bintang sinetron?

Bukankah tak ada pelanggaran hukum di sana? Tak ada skandal di sana? Bukankah semua orang pada dasarnya bagus bagus saja melakukan lobi, meyakinkan aneka pihak? Kok masalah itu saja bisa dijadikan isu dan viral?

-000-

Ia kembali minum itu kopi. Dinyalakannya Smart TV, dan masuk ke Neflix. Kembali ia lanjutkan serial docu drama tentang kisah para genius mengubah peradaban.


Kisah tentang Bill Gates, Pulitzer, Thomas Alfa Edison. Kadang mereka sedikit berkotor tangan, melobi sana dan sini untuk realisasi gagasan.

Perlukah Ia klarifikasi isu soal dirinya mengajukan diri sebagai komisaris BUMN itu? Baiklah, ujarnya. Klatifikasi saja dalam bentuk cerpen.

Dan jadilah cerpen ini.

15 Jan 2020

Luhut Enggan Menanggapi Isu

Luhut yang disebut dalam pesan itu pun telah ditanya soal isu tersebut. Namun, dia mengaku lelah menanggapi isu tersebut.

"Ah itu aja capek nanggapin itu, yang lain," kata Luhut kepada wartawan di Kemenko Maritim, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (15/1/2020).

Ketika ditanya lagi terkait kebenaran pesan WhatsApp itu, Luhut justru menanggapinya dengan berkelakar.

"Kenapa sih kamu senang gitu-gituan. Mbok yang lain agak bermutu gitu. Mbok cari pertanyaan-pertanyaan, yang mau minta itu tuh sak perahu banyak gitu loh," ujar Luhut. (jbr/dkp)