Round-Up

Cerpen Denny JA Jawab Isu Minta Posisi

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 17 Jan 2020 06:32 WIB
Denny JA (Antarafoto)



Denny JA Jawab Isu Lewat Cerpen

Denny JA kemudian membuat klarifikasi soal isu 'minta jabatan' ini dalam bentuk cerpen di fanpage Facebooknya. detikcom mendapatkan izin dari peneliti LSI Adjie Al Faraby untuk mengutip klarifikasi tersebut.

Dalam klarifikasinya, Denny JA menyebut pesan itu sebagai gosip yang diviralkan. "Pastilah sebagian masyarakat ini kehilangan isu besar. Gosip pun dijadikan isu. Tanpa cek and rechek lagi, gosip itu diforward kemana-mana. Dan viral pula," ujar Denny JA dalam klarifikasinya, Rabu (15/1/2020).

Denny JA juga sempat menyinggung isu lama yang juga pernah menerpanya pada Pilpres 2019. Yakni soal isu yang menyebut dirinya dibayar 45 milyar oleh Jokowi agar bisa mengalahkan Prabowo Subianto.

Berikut ini isi klarifikasi lengkapnya:

KETIKA GOSIP KOMISARIS BUMN PUN DIJADIKAN ISU

Klarifikasi Denny JA Dalam Bentuk Cerpen😁

"Pastilah sebagian masyarakat ini kehilangan isu besar. Gosip pun dijadikan isu. Tanpa cek and rechek lagi, gosip itu diforward kemana- mana. Dan viral pula."

Itulah responnya yang pertama ketika membaca teks di WA. Dengan senyum, sambil menyerumput kopi, ia baca sekali lagi pesan beruntun di ponselnya.

Diberitakan, WAnya ke salah satu mentri bocor. Ia menawarkan diri menjadi komisaris salah satu BUMN. Entah apa yang salah? Atau apa yang penting dari soal itu hingga dijadikan isu yang viral?

Dalam hidupnya sebagai aktivis, tak sekali ia menerima gosip itu. Sebelumnya di era Pilpres 2019, ia dikabarkan menerima uang dari Jokowi sebesar 45 Milyar rupiah untuk memenangkan Jokowi mengalahkan Prabowo.

Waktu itu, Ia santai saja menjawab. "Itu fitnah karena angka 45 Milyar kok kecil sekali. Padahal saya TIDAK sedang banting harga."


Sebagai konsultan politik yang ikut memenangkan presiden tiga kali berturut- turut (kini empat kali), apa
Iya saya dibayar hanya 45 milyar?" Celotehan santai darinya saat itu terasa pas. Agaknya lebih efektif merespon gosip politik dengan celotehan saja.

Apa daya. Ia tumbuh sebagai aktivis. Berdebat di publik menjadi nafasnya. Berdebat dengan data, angka dan hasil riset memang hobinya. Tapi berceloteh pun oke juga.

Sejak lama, Ia memang rindu. Ia berharap ruang publik lebih diisi oleh debat gagasan. Ia ingin para elit heboh oleh inovasi. Ia angankan kembali datang era berpolitik gaya Founding Fathers yang pejuang tapi juga pemikir.

Tapi yang marak dan heboh di ruang publik, acapkali hanya soal skandal tokoh, gosip dan hoax. Apa daya.

Ia teringat teks WA yang Ia terima semalam. Isi WA itu gosip tentang dirinya. Ia digambarkan seolah berkomunikasi dengan seorang menteri untuk jabatan komisaris BUMN.

Ia forward gosip itu ke beberapa, hanya untuk info. Ternyata, itu malah diforward beberapa kali oleh mereka yang senang bergosip ke aneka grup. Tanpa ada check and rechek dan mengelaborasi konteksnya dulu.

Di era media sosial, apapun mudah menjadi isu. Apalagi jika masyarakat yang kehilangan isu besar. Gosip pun menjadi isu. Lebih sensasional lebih asyik. Tak penting benar atau salah.

Ia teringat lirik lagu Michael Jackson: Beat it! beat it! No matter who is wrong or right. Just beat it!

Selanjutnya
Halaman
1 2 3