Naikkan Elpiji, Pertamina Merugi=Meraup Untung Tinggi
Jumat, 25 Nov 2005 10:55 WIB
Jakarta -
Alasan Pertamina menaikkan harga elpiji hingga 41 persen karena merugi, tidak dipercayai masyarakat. Bagi warga, merugi yang dimaksud Pertamina merupakan akronim dari "meraup untung setinggi-tingginya".Demikian rangkuman sejumlah email menolak kenaikan harga elpiji yang terus diterima detikcom, Jumat (25/11/2005).Anto, seorang pegawai swasta, mempertanyakan alasan merugi yang dipakai Pertamina. "Pertamina kok bisa-bisanya bilang merugi? Ruginya mereka kan juga karena ulah orang-orang mereka yang korupsi," kata Anto dalam emailnya.Untuk mengatasi kerugian, Pertamina seharusnya memberantas korupsi yang dilakukan pejabatnya terlebih dulu. "Berantas dulu korupsi di Pertamina, audit keuangannya. Buat rakyat yakin kalau meruginya itu bukan karena korupsi, baru deh naikin elpiji," pinta Anto.Ketidakpercayaan Pertamina merugi juga disampaikan Dady, pegawai PT Citra Sari Makmur. Menurut Dady, kenaikan harga elpiji bukan karena Pertamina merugi, tapi untuk menaikkan kesejahteraan pegawai Pertamina yang sudah sejahtera."Nggak habis pikir Pertamina ruginya di mana sih? Sementara kita hidup ketar-ketir, pegawai Pertamina malah hidupnya sejahtera," kata Dewa.Semestinya pengelolaan Pertamina lebih diefisiensikan lagi, bukan dengan menaikkan harga elpiji yang membuat rakyat semakin menjerit. "Kasihan rakyat kecil harus menanggung beban akibat pengelolaan Pertamina yang tidak efisien," tukas Dewa.Sementara Suniah dalam emailnya mencurigai alasan merugi hanyalah dalih Pertamina untuk meraup keuntungan setinggi-tingginya. "Dalil yang mereka gunakan nggak inovatif. Selalu saja mengulang lagu lama, yaitu "merugi". Padahal kita semua tahu, "merugi" yang dimaksud adalah meraup untung setinggi-tingginya," tulis Suniah dalam emailnya.Dudy Purnomo mengusulkan agar semua BUMN diswastanisasikan agar tidak ada lagi alasan merugi untuk menaikkan harga produknya. "Jika memang dalih para BUMN ini adalah selalu merugi, bagaimana jika semua BUMN diswastanisasi agar dapat langsung bersaing di pasar bebas," tulis Dudy.
(iy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































