Tak Adil Jika Golkar Tidak Beri Akbar Penghargaan
Jumat, 25 Nov 2005 09:02 WIB
Jakarta -
Partai Golkar dalam perayaan HUT ke-41 akan memberikan "Anugrah Bhakti Pratama" kepada 6 tokoh senior. Namun nama Akbar Tandjung tidak masuk dalam daftar tersebut. Padahal, Akbar dulu yang getol mempertahankan Golkar saat dihujani kecamanan. Aneh."Tidak adil lah kalau beliau tidak diberi penghargaan karena saat masa kritis, beliau ujung tombak organisasi," kata Ibrahim Ambong, kader Golkar yang cukup dekat dengan Akbar, saat dihubungi detikcom, Jumat (25/11/2005).Akbar memang patut dicatat sebagai orang yang berjasa dalam partai berlambang beringin ini. Sebab, pada awal reformasi, Akbar tetap memimpin Golkar yang mengalami masa krisis. Saat itu, publik banyak yang menghendaki Golkar dibubarkan. Akibatnya, sejumlah kantor Golkar di daerah pun menjadi sasaran amuk massa. Akbar pun tidak luput dari kejaran massa yang beringas.Ambong mengaku terkejut tidak masuknya Akbar dalam daftar penerima penghargaan. "Ancaman terhadap Golkar justru terjadi pada masa reformasi tapi kok tiba-tiba Golkar beri penghargaan kepada orang di masa lalu (Orde Baru)," kritiknya.Untuk itu, mantan Ketua Komisi I DPR ini meminta adanya kejelasan kriteria pemberian penghargaan tersebut. "Kriterianya tidak jelas, apa yang dimaksud berjasa kepada partai dan bangsa," cetusnya.Ia mengaku sempat dihubungi mantan Mensesneg Moerdiono yang merupakan salah satu tokoh yang menerima penghargaan. "Dia malah balik bertanya, ini kriterianya apa," tutur Ambong.Akbar sendiri, kata Ambong tidak kecewa dengan keputusan ini. "Dia berbesar hati. Dia malah mengatakan saya berbakti untuk Golkar tulus dan tidak mengharapkan apa-apa. Biar masyarakat saja yang menilai," ujar Akbar seperti ditirukan Ambong.Penetapan siapa tokoh yang menerima penghargaan ini diputuskan dalam rapat yang digelar pada 15 November lalu. Rapat tersebut digelar di Kantor Depnakertrans,tempat tokoh seangkatan Akbar yakni Fahmi Idris berkantor. Rapat tersebut dipimpin oleh Ismail Sunny, anggota Dewan Penasihat. Turut hadir dalam rapat tersebut yakni Abdul Gafur, Soleh Solahuddin, Syamsul Muarif, Burhanuddin Napitupulu, dan Fahmi Idris. Akhirnya diputuskan dari 50 nama yang diajukan, ada 6 tokoh yang menerima penghargaan. Mereka adalah mantan Presiden Soeharto, BJ Habibie, Moerdiono, Oetojo Oesman, Cosmas Batubara dan Basyuni Suryadiharja.
(ton/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































