Non Muslim Teman Nabi (2)

Abdullah bin Uraiqith: Penyembah Latta, Penunjuk Rute Hijrah Nabi Muhammad

Erwin Dariyanto - detikNews
Selasa, 14 Jan 2020 17:48 WIB
Setelah 3 hari di Gunung Tsur, Nabi Muhammad dan Abu Bakar menuju Madinah dengan penunjuk arah Abdullah bin Uraiqith (Foto: Ilustrasi: Fuad Hasyim/detikcom)
Setelah 3 hari di Gunung Tsur, Nabi Muhammad dan Abu Bakar menuju Madinah dengan penunjuk arah Abdullah bin Uraiqith (Foto: Ilustrasi: Fuad Hasyim/detikcom)
Jakarta - Sosok Abdullah bin Uraiqith, menjadi artikel kedua dari tulisan Non Muslim teman Nabi Muhammad SAW. Sosok Abdullah bin Uraiqith nyaris tak dikenal hingga kini. Padahal dia merupakan satu dari empat orang yang mengetahui keberangkatan hijrah Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar As Shiddiq dari Makkah ke Yastrib, kini bernama Madinah.

Abu Bakar terpilih di antara para sahabat untuk menemani keberangkatan hijrah Nabi Muhammad SAW. Ketika sudah mendapat isyarat segera berangkat hijrah, Abu Bakar pun melakukan persiapan.



Salah satunya dengan membeli dua ekor unta sebagai kendaraan. Dia kemudian menemui Abdullah bin Uraiqith untuk mengawal dan penunjuk arah ke Madinah. Saat itu, Abdullah belum masuk Islam. Dia masih menganut kepercayaan nenek moyangnya kaum Quraisy, yakni menyembah Latta dan Uzza.

Di saat yang sama kaum Quraisy tengah berupaya membunuh Nabi Muhammad SAW. Namun Abu Bakar begitu mempercayai Abdullah bin Uraiqith.

"Wahai Abdullah, aku ingin memberi satu tugas kepadamu. Sanggupkah engkau memegang amanah itu?" tanya Abu Bakar kepada Abdullah seperti dikutip dari Buku The Khalifah: Biografi 4 Khalifah karya Abdul Latip Talib.


Abu Bakar meminta Abdullah menjadi penunjuk arah ke Madinah. Namun dia mewanti-wanti agar perjalanan ini dirahasiakan. Apabila informasi bocor, nyawa Abu Bakar dan Nabi Muhammad SAW menjadi taruhannya. Sebab waktu itu kaum kafir Quraisy sedang menggelar sayembara, memberi imbalan 100 ekor unta bagi siapa pun yang bisa menemukan Muhammad dan membunuhnya.

"Demi Latta dan Uzza, aku sanggup menerima amanah itu. Aku tidak akan mengkhianatimu, wahai Abu Bakar," jawab Abdullah.

Abu Bakar berjanji memberikan imbalan kepada Abdullah bin Uraiqith. Maka, pada malam yang telah ditentukan, Rasulullah dan Abu Bakar berangkat meninggalkan Makkah. Dikutip dari Sirah Nabawiyah karya Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, saat itu adalah Senin malam awal bulan Rabi'ul Awwal tahun pertama Hijrah atau 16 September 622 Masehi.



Abdullah dipercaya membawa dua ekor unta yang akan menjadi kendaraan Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar. Sementara Nabi Muhammad dan Abu Bakar menuju puncak Gunung Tsur, Abdullah bin Uraiqith membawa unta ke balik gunung.

Setelah 3 hari bersembunyi di salah satu gua di Gunung Tsur, Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar turun dan menuju ke Madinah dengan petunjuk arah Abdullah bin Uraiqith. Rombongan mengambil rute yang tak biasa dilalui para pedagang saat ke Madinah.

Abdullah bin Uraiqith membawa rombongan melewati jalur pesisir pantai, menuju Selatan ke arah Yaman, kemudian berbelok ke barat arah pesisir. Dari situ kemudian berbelok ke barat arah pesisir, lalu menuju ke utara mendekati Laut Merah hingga sampai di Quba. Disebutkan bahwa Nabi Muhammad tiba di Quba pada Senin 8 Rabiul Awwal tahun ke-14 kenabian atau tahun 1 Hijriyah, atau 23 September 622 Masehi.

Setiap sore Tim Hikmah detikcom akan menurunkan kisah-kisah inspiratif dari Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Kumpulan berita harian Hikmah terbaru dan terlengkap seputar Islam dan kisah inspiratif bisa dibaca di sini. (erd/nwy)