Dirut BPJS Kesehatan Tinjau Layanan Cuci Darah dengan Finger Print

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Senin, 13 Jan 2020 13:44 WIB
Foto: Faidah Umu Sofuroh
Foto: Faidah Umu Sofuroh
Jakarta -

BPJS Kesehatan telah memutuskan bahwa 2020 akan menjadi tahun pelayanan dan kepuasan peserta. Dengan visi ini, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris kembali meninjau fasilitas kesehatan yang melayani peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Kali ini, penijauan dilakukan di Klinik Hemodialisis Tidore, Cideng, Jakarta Pusat.

"Tadi kita sama-sama melihat bagaimana pelayanan di Klinik Tidore ini punya pelayanan yang bagus, kita apresiasi peserta JKN-KIS dilayani dengan baik. Ada spesifik untuk kasus-kasus gagal ginjal dan penyakit hepatitis C dipisahkan secara khusus, alat juga secara khusus, saya yakin standar pelayanannya sangat dijaga di sini," ungkap Fachmi di Klinik Hemodialisis Tidore, Senin (13/1/2020).

Ia meninjau untuk memastikan bahwa pasien terutama peserta JKN-KIS mendapatkan pelayanan yang baik. Selain itu, ia juga memastikan bahwa fasilitas kesehatan mitra kerja, dalam hal ini Klinik Hemodialisis Tidore mengimplementasikan kemudahan layanan bagi pasien JKN-KIS yang rutin menjalani cuci darah, cukup dengan finger print tanpa perlu mengulang membuat surat rujukan.

"Untuk hal-hal terkait meningkatkan pelayanan yang memudahkan peserta yang memudahkan peserta mengakses layanan kesehatan semakin ditingkatkan. Salah satunya kita telah sepakati bersama, adalah simplifikasi pelayanan hemodialisis," ucapnya.

Dia mengatakan dengan adanya program finger print, peserta JKN gagal ginjal dapat mengakses fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, tanpa harus bolak-balik ke FKTP.

Namun, imbuh Fachmi, pasien harus direkam dulu finger print-nya. Dengan adanya rekaman ini, pasien akan terdaftar sebagai peserta, lalu kemudian akan memudahkan simplifikasi yang berkaitan dengan prosedur administrasi.

"Jadi kami ingin memastikan itu berjalan, karena program ini mulai 1 Januari, kemudian sengaja kami pilih salah satu klinik, kami ingin memastikan juga bagaimana pelayanan di klinik itu terlaksana. Kalo di rumah sakit untuk pelayanan hemodialisis saya sudah sering (meninjau), tapi kalau di klinik ini baru pertama," tuturnya.

Saat ini, ada 772 fasilitas kesehatan yang melayani hemodialisis yang telah mengimplementasikan program finger print. Adapun di antaranya 715 rumah sakit dan 47 klinik utama.

"Jadi intinya, untuk finger print semua sudah. Rumah sakit dan klinik semuanya sudah bekerja sama, dan sudah merekam data-data pasien sehingga mereka tak perlu lagi kembali ke puskesmas untuk membuat surat rujukan," tandasnya.



(mul/ega)