Buku Teroris Jangan Dilarang

Hindari Aksi Lebih Dahsyat

Buku Teroris Jangan Dilarang

- detikNews
Kamis, 24 Nov 2005 15:01 WIB
Jakarta - Pemerintah dan pihak-pihak tertentu diminta berpikir proporsional dalam menyikapi peredaran buku-buku teroris. Sikap yang berlebihan dikhawatirkan justru akan memicu aksi teror yang lebih dahsyat."Buku Sayyid Qutb dan Hasan Al-Banna yang dianggap sebagai rujukan Imam Samudra (terpidana peledakan bom Bali I) menurut saya tidak bermasalah," kata Ketua MPR Hidayat Nurwahid di sela acara sarasehan Dewan Pers di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (24/11/2005).Buku-buku tersebut, imbuh Hidayat, justru banyak dibaca oleh kalangan akademisi dan orang-orang di lingkungan pesantren."Justru orang-orang yang melakukan pengeboman itu yang tidak membaca secara langsung buku Hasan Al- Banna maupun Sayyid Qutb," kata Hidayat.Sedangkan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengatakan, buku yang ditulis Imam Samudra yang dinilai beraliran keras hendaknya jangan dilarang. Sebab kalau dilarang maka pemerintah akan kehilangan jejak kaki teroris.Dia mengimbau semua pihak agar secara teliti dan seksama agar memahami benar pemikiran orang-orang yang menulis buku tersebut.Sebab para teroris menggunakan buku-buku yang dikarang Salman bin Fahd Al 'Audah, Safar bin Abdul Rahman Al Hawali, Abdullah 'Azzam, Aiman Azh Zhawahiri, dan Usamah bin Ladin, sebagai rujukan.Sebelumnya, agar makna jihad tidak salah kaprah, pemerintah berencana mengkaji buku-buku yang dianggap menjadi rujukan aksi para terorisme. Saat ini buku-buku jihad dan buku yang dikarang Imam Samudra yang bertajuk Aku Melawan Teroris laris bak kacang goreng di berbagai daerah. (umi/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads