Dear Milenial, Dengar Ceramah di YouTube Boleh Saja, Tapi...

Rosmha Widiyani - detikNews
Jumat, 10 Jan 2020 16:03 WIB
Foto: Usman Hadi/Dear Milenial, Dengar Ceramah di YouTube Boleh tapi Tetap Makmurkan Masjid
Jakarta - Di era 4.0, generasi milenial dan generasi Z muslim mendapat aneka kemudahan akibat perkembangan teknologi. Termasuk dalam hal belajar atau mencari ilmu agama, bisa lewat media sosial semacam, YouTube, Twitter, Facebook juga Instagram.

Sayangnya, akibat kemudahan teknologi itu orang jadi merasa tak perlu ke masjid untuk mengaji atau mendengarkan ceramah. Mereka hanya ke masjid ketika sholat Jumat, sholat Idul Fitri atau Idul Adha.

Dikutip dari buku Masjid Milenial, Bagaimana Generasi Milenial Memakmurkan dan Dimakmurkan Masjid dari Arief Rosyid dan Tim Departemen Kaderisasi Pemuda Dewan Masjid Indonesia, kecenderungan generasi sekarang untuk lebih dekat pada Allah SWT sebetulnya makin besar. Milenial kerap mengakses ceramah dari ustaz favorit lewat Youtube, Facebook, atau Instagram dengan berbagai tema.


Sayangnya kecenderungan ini tidak seiring dengan peningkatan kunjungan milenial ke masjid. Survei Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Merial Institute lewat internet pada Juli 2018 menunjukkan, hanya 33,6 persen anak muda yang datang ke masjid tiap hari. Artinya, hanya satu dari tiga milenial yang rutin ke masjid.

Meski bisa melakukan berbagai praktik keagamaan lebih mudah, milenial tetap harus pergi ke masjid. "Bagi umat Islam, masjid tidak hanya rumah ibadah tapi juga pusat peradaban. Kisah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat telah membuktikan masjid menjadi awal perbaikan bagi lingkungan sekitar," tulis Arief.

Masjid berkembang menjadi sekolah ketika Khalifah Umar bin Khattab menunjuk beberapa orang sebagai guru di Kufah, Basrah, dan Damaskus. Masjid yang ramai didatangi jamaah dan menjadi pusat kegiatan, bisa menjadi pondasi perbaikan karakter serta memberi lebih banyak manfaat bagi masyarakat.


Berbagai komunitas muslim virtual berbasis YouTube, Facebook, dan Instagram sebaiknya menggunakan masjid sebagai sentral kegiatan. Misal Masjid Al Lathif di Bandung yang menjad homebase komunitas Pemuda Hijrah pimpinan Ustaz Hanan Attaki. Mereka yang menjadi jamaahnya antara lain mantan musisi, pengusaha distro, dan anggota geng motor. Ada juga Remaja Islam Masjid Cut Meutia (RICMA) yang menggelar Ramadhan Jazz Festival.

Seiring waktu, memang ada yang harus diubah dalam pengelolaan masjid saat ini sesuai karakter milenial. Sebanyak 73,9 persen milenial ingin ada digitalisasi kegiatan masjid, upload ceramah, atau sekadar jadwal sholat melalui aplikasi. Milenial juga ingin ada update manajemen pengetahuan untuk pengelola masjid sesuai perkembangan terkini yang diupdate lewat Youtube, Facebook, atau Instagram.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah harapan milenial supaya masjid punya kekuatan ekonomi sendiri, serta menyelenggarakan acara seperti tabligh akbar atau zikir. Pengelolaan model RICMA dn Ustaz Hanan Attaki bisa menjadi inspirasi asal sesuai karakter milenial yang akan melanjutkan pengembangan Islam dan masjid. (row/erd)