Pertahanan Udara RI Diantara Dua Pilihan, Sukhoi dan F16
Rabu, 23 Nov 2005 22:30 WIB
New Delhi - Guna peningkatan pertahanan udara, Pemerintah Indonesia saat ini dihadapi dua pilihan penting, hidupkan kembali F16 atau melengkapi Sukhoi. Pada akhir 2009, diharapkan TNI AU bisa memiliki satu skuadron dari dua pesawat tempur canggih itu lengkap dengan sistem persenjataannya."Jadi sekarang antara F16 dan Sukhoi, kira-kira mana yang akan kita prioritaskan nanti pengadaannya," kata Menhan Juwono Sudharsono sore ini di New Delhi, India, Rabu (23/11/2005).Hal tersebut disampaikan Juwono kepada wartawan, sesaat sebelum mendampingi Presiden Susilo B. Yudhoyono (SBY) mengadakan pembicaraan bilateral dengan PM India, Manmohan Singh.Langkah ini diambil menyusul keputusan resmi Pemerintah Amerika Serikat (AS) mencabut embargo kerja sama militernya dengan RI. Sanksi tersebut telah berjalan selama hampir sepuluh tahun terakhir.Pada kesempatan ini, Juwono juga akan menandatangani nota kesepatakan kerja sama militer dua negara dengan koleganya, Menhan India Pranab Mukherjee. Menurut Juwono, dirinya dan KSAU Joko Suyanto, akan membahas kemungkinandihidupkannya kembali skuadron tempur F16 TNI AU. Selama ini sejumlah pesawatnya 'mangkrak' di hanggar karena ketiadaan suku cadang akibat embargo AS. Kemungkinan ini akan diperbandingkan dengan pilihan membangun skuadron Sukhoi yang dirintis beberapa tahun terakhir. Baik jumlah pesawat, sistem persenjataan dan pelatihan tambahan bagi awaknya. Bila nanti dengan putusannya adalah menghidupkan kembali skuadron F16, maka TNI AU menargetkan dapat menghidupkan minimal dua pesawat setiap tahunnya. Sehingga pada akhir 2009, sepuluh pesawat yang tersisa kembali layak terbang. Lebih lanjut Juwono mengatakan, perkembangan baru di AS ini membuka peluang bagi Indonesia membading-bandingkan pilihan untuk pengadaan alat utama sistem pertahanan (alusista) dan pelatihan bagi perwira TNI yang terbaik bagi Indonesia untuk jangka panjang. "Untuk infanteri dan artileri, bisa dibanding-bandingkan nanti. Tapi anti terorisme tidak, karena kita sudah ada kerja sama dengan negara lain. Pelatihan bagi pasukan khusus belum ada arahan," imbuhnya. Ditemui secara terpisah KSAU Joko Waluyo, menegaskan pihaknya masihmempertimbangkan secara serius pilihan membangun skuadron Sukhoi. Pencabutan embargo militer AS tidak serta merta membuyarkan skenario besar yang dirintis oleh para KSAU pendahulunya. Penambahan jumlah pesawat dan pengadaan senjatanya, secara bertahap akan dimulai pada tahun anggaran 2007. Terkait dengan itu, TNI AU terus menjajaki kemampuan industri aeronautika sejumlah negara yang mendapat lisensi dari Rusia untuk memproduksi persenjataan bagi Sukhoi. "Kita akan terus jajaki, mana yang lebih baik antara membeli langsung dari Rusia, atau produk India dan China atas lisensi Sukhoi," ujarnya di Istana Rashtrapati Bhawan, New Delhi, India.
(ahm/)










































