Mesin Waktu

Kisah Nyata Sadako, Gadis Jepang Melawan Ganasnya Efek Bom Atom

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Selasa, 07 Jan 2020 15:36 WIB
Foto: Sadako Sasaki dan bangau kertas yang diabadikan di Monumen Perdamaian Anak di Hiroshima, Jepang (wikimedia commons)

Saat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih intensif, dokter mendiagnosis Sadako terkena leukimia. Dokter pun memberitahu keluarga bahwa usia Sadako tak lebih dari setahun. Tidak seorang pun keluarganya yang percaya. Pada 21 Februari, Sadako memasuki Rumah Sakit Palang Merah Hiroshima.

Waktu itu mereka menyebut leukemia sebagai "penyakit bom atom". Hampir setiap orang yang menderita penyakit ini meninggal, dan Sadako sangat ketakutan. Sadako ingin kembali ke sekolah. Namun dia harus tinggal di rumah sakit tempatnya menangis dan menangis.

Kisah Nyata Sadako, Gadis Jepang Melawan Ganasnya Efek Bom AtomFoto: Sadako duduk di tengah barisan depan bersama kawan-kawan sekolahnya (Hiroshima Peace Memorial Museum)


Tak lama kemudian, sahabatnya, Chizuko Hamamoto, datang mengunjunginya. Chizuko membawa beberapa origami (kertas lipat). Dia memberi tahu Sadako tentang legenda, bahwa bangau, seekor burung suci di Jepang, dapat hidup selama seratus tahun. Jika orang yang sakit melipat 1.000 bangau kertas, maka orang itu akan segera sembuh.

Setelah mendengar legenda itu, Sadako memutuskan untuk melipat 1.000 bangau dengan harapan bisa sembuh kembali. Dia terus melipat bangau dengan ceria dan penuh harapan meskipun sangat kesakitan. Sampai tiba suatu titik dimana dia tidak bisa melipat lagi dan kemudian wafat dalam usia 12 tahun dengan 644 bangau kertas di kamarnya.

Semua orang sangat sedih. Teman-teman sekelas Sadako memutuskan untuk membentuk klub bangau kertas untuk menghormatinya. The Japan Times menyebut teman-teman Sadako berjanji di depan jasadnya yang dikremasi bahwa mereka akan membangun sebuah monumen untuk menghormatinya.