Eksodus Dokter & Perawat, Filipina Hadapi Masalah Serius
Rabu, 23 Nov 2005 16:35 WIB
Jakarta - Pemerintah Filipina mengakui bahwa sistem kesehatan di negaranya menghadapi masalah serius. Ini dikarenakan banyak dokter dan perawat yang meninggalkan Filipina untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik di luar negeri.Demikian disampaikan Juru bicara Kepresidenan Filipina, Ignacio Bunye, seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (23/11/2005)."Ini memang masalah serius, namun keputusan para praktisi medis terlatih dan terbaik kita untuk meninggalkan negeri ini guna mencari padang rumput yang lebih hijau di luar negeri, adalah di luar kendali kami," ujar Bunye. Pernyataan juru bicara Presiden Gloria Macapagal Arroyo itu disampaikan untuk menanggapi banyaknya dokter dan perawat Filipina yang bekerja di luar negeri demi mendapatkan penghasilan yang jauh lebih tinggi. Namun Bunye menegaskan bahwa pemerintah Filipina sedang mempertimbangkan opsi-opsi dan strategi untuk mendorong para dokter agar tetap di tanah air, di samping menambah jumlah para lulusan sekolah medis.Akibat eksodus tenaga medis ini, sekitar 1.000 rumah sakit swasta di seluruh Filipina terpaksa ditutup. Kini hanya 700 rumah sakit swasta yang beroperasi, atau tinggal 40 persen dari sebelumnya. Eksodus ini dipicu oleh rendahnya pendapatan para dokter yang "hanya" mendapat 18 ribu peso (sekitar Rp 3,3 juta) per bulan. Sementara perawat di Filipina bergaji 12 ribu peso (sekitar Rp 2 juta). Padahal jika bekerja di AS atau Eropa, mereka bisa memperoleh puluhan kali lipat.Bahkan karena iming-iming gaji yang tinggi, banyak dokter Filipina yang bersedia kembali ke bangku kuliah untuk mengambil gelar di bidang keperawatan demi menjadi perawat di luar negeri. Ini dikarenakan permintaan akan tenaga perawat sangat tinggi di luar negeri.
(ita/)











































