42.666 Surat Tanah Aceh Selamat

42.666 Surat Tanah Aceh Selamat

- detikNews
Rabu, 23 Nov 2005 14:45 WIB
Jakarta - Warga Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) boleh berharap bisa memiliki tanahnya kembali pasca tsunami. Sebanyak 42.666 surat pertanahan berhasil diselamatkan dari kerusakan akibat tsunami. Surat-surat itu kini dibekukan untuk direstorasi."Surat itu diselamatkan ahli dokumen dari Jepang, Sakamoto, bersama mitra dari Indonesia. Sekarang telah dibekukan dalam alat freeze cold storage," kata Kepala Arsip Nasional Djoko Utomo.Djoko menyampaikan hal itu dalam sambutan saat menerima bantuan Jepang untuk restorasi dokumen pertanahan di Kantor Arsip Nasional, Jalan Ampera Raya, Jakarta, Rabu (23/11/2005). Hadir dalam acara itu, Meneg PAN Taufik Effendi, Kepala Badan Pertanahan Nasional Joyo Winoto, Duta Besar Jepang untuk RI Yutaka Limura serta ahli dokumen Jepang Prof Sakamoto.Kepala Badan Pertanahan Nasional Joyo Winoto menyambut baik penemuan surat-surat tanah tersebut. Dokumen tersebut akan digunakan untuk mengembalikan hak rakyat Aceh atas tanah yang dimilikinya. "Kita sempat kesulitan karena subjek dan objek dari kepemilikan tanah tersebut sudah hilang dan sebagian rusak, namun kita akan tetap bekerja untuk mengembalikan hak-hak rakyat tersebut," kata Joyo.Taufik Effendi juga menegaskan, tanah yang merupakan hak rakyat Aceh harus dikembalikan meskipun surat-suratnya hilang. "Itu merupakan hak-hak rakyat yang harus dikembalikan kepada rakyat. Kita tak ingin ada amnesia kolektif karena hilangnya dokumen-dokumen penting," kata Taufik. Taufik juga memuji kerja Arsip Nasional yang berhasil menyelamatkan 84 meter kubik arsip dari kerusakan akibat tsunami."Ini luar biasa," puji Taufik. Bantuan Jepang Bantuan Jepang yang diserahkan pada Arsip Nasional antara lain freeze dry vacuum chamber, scanner kamera digital dan perangkat lunak komputer. Bantuan itu akan direalisasikan dalam bentuk bantuan non project senilai US$ 146 juta. Khusus untuk bantuan freeze dry vacuum chamber, Jepang membatalkan rencana semula yang akan menghibahkan peralatan itu. Bantuan itu diubah menjadi pinjaman yang harus dikembalikan. "Ini akan menyulitkan dan menghambat penanganan dokumen/arsip lain yang terkena musibah, namun kami masih sangat berterima kasih kepada pemerintah Jepang. Nanti akan kami upayakan lagi agar kembali menjadi hibah," kata Djoko. Rencananya freeze dry vacuum chamber itu mulai hari ini akan digunakan untuk mengeringkan dokumen-dokumen surat pertanahan yang berhasil diselamatkan. Dokumen itu kemudian akan di-scan secara digital untuk disusun sebagai database peta kadaster surat pertanahan. (iy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads