Lihat Bunga Bangkai Mekar, Bima Arya: Harta Karun di Kebun Raya

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Sabtu, 04 Jan 2020 19:20 WIB
Foto: Pemkot Bogor
Jakarta -

Wali Kota Bogor Bima Arya berkesempatan melihat momen langka mekarnya Amorphophallus Titanum atau Bunga Bangkai di Kebun Raya Bogor. Di bawah rintik gerimis, Bima bahkan sempat mendekat ke bunga raksasa yang memiliki tinggi 194 cm itu.

Menurut Bima, tumbuhnya Bunga Bangkai ini merupakan salah satu harta karun dari sekian banyak keunikan yang ada di Kebun Raya Bogor. Ia pun penasaran dengan aromanya.

"Momen langka salah satu harta karun di Kebun Raya, kita ekspos bersama-sama dengan LIPI dan pengelola Kebun Raya. Ini juga menyimbolkan semangat dari Kebun Raya sebagai pusat konservasi, bukan hanya rekreasi saja," ujar Bima dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/1/2020).

"Ke depan, kita ingin terus di eksplore harta karun yang banyak sekali di sini, sesuai arahan Pak Presiden Jokowi agar Kebun Raya Bogor ini bisa dikelola seperti di Singapura," imbuhnya.

Bima menuturkan Kebun Raya Bogor memiliki nilai histori yang sangat luar biasa dibandingkan dengan kebun raya lain yang ada di dunia. Ia menitip agar KRB dikelola lebih profesional dan seimbangkan antara riset dan wisata.

Selain itu, ke depan Pemkot Bogor akan terus bersinergi dengan LIPI dan pengelola KRB untuk melakukan harmonisasi dan akselerasi. Sebelumnya, harmonisasi sudah dimulai dengan pembangunan pedestrian di seputar Istana dan KRB atas usulan walikota kepada Presiden.

"Kalau tidak dibangun pedestrian, maka seputar KRB akan dipenuhi PKL. KRB kan paru-paru Kota Bogor jadi perlu dirawat dan dijaga. Kami juga sudah memulai program Naturalisasi Ciliwung yang melintas KRB," terangnya.

"Nanti juga ada pembangunan kawasan parkir (park and ride) di dekat Pasar Bogor yang diharapkan tidak ada lagi kendaraan yang masuk ke KRB dan yang parkir sembarangan di sepanjang ruas jalan utama," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI Hendrian mengatakan, Kegiatan konservasi dan penelitian yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya berperan penting dalam mengupayakan pembudidayaan bunga bangkai untuk pemanfaatan berkelanjutan dan lestari.

Dia menjelaskan, konservasi jenis-jenis tumbuhan terancam di Indonesia akan menjadi salah satu fokus utama kegiatan penelitian LIPI di tahun ini.

"Beberapa kegiatan eksplorasi juga akan dilakukan untuk meningkatkan secara signifikan jumlah jenis tumbuhan terancam yang terkonservasi secara ex-situ di Kebun Raya Indonesia," terangnya.

Hendrian juga mengucapkan apresiasi kepada Pemkot Bogor, khususnya Wali Kota Bogor Bima Arya atas dukungan dan kolaborasinya selama ini.

"Saya sangat senang sekali karena kami merasa dukungan dari Pemkot Bogor sangat besar kepada KRB sehingga ke depan Insya Allah dengan kerjasama dan sinergi yang baik hal-hal penting bisa digarap bersama. Ini adalah menegaskan sinergisme di antara KRB dan Pemkot Bogor, kami sangat senang bisa berkontribusi lebih besar kepada Pemkot misalnya dalam hal jasa lingkungan," ungkapnya.

Di tempat yang sama, Peneliti Bunga Bangkai Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, Dian Latifah menjelaskan Amorphophallus Titanum berbeda dengan Rafflesia meski keduanya dikenal masyarakat dengan sebutan bunga bangkai.

"Rafflesia merupakan tumbuhan parasit dengan pohon inang Tetrastigma spp. atau anggur hutan," ujar Dian.

Dian menjelaskan, Amorphophallus titanum memiliki fase daun dan fase bunga yang tidak bersamaan. "Fase daun dapat mencapai satu sampai dua tahun. Setelah itu umbi akan memasuki masa istirahat atau dorman yang bisa lebih dari satu setengah tahun, kemudian berbunga," sebutnya.

LIPI saat ini telah meneliti kandungan umbi bunga bangkai. "Umbinya bermanfaat karena kandungan glukomanan yang memiliki kegunaan sebagai zat pengental, jelly kaya serat (dietary fibers) dan suplemen untuk diet kolesterol, gula darah, dan agen kontrol berat badan," pungkas Dian.

Amorphophallus titanum sendiri masuk dalam kategori tumbuhan langka berdasarkan klasifikasi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan keberadaannya dilindungi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Poerba dan Yuzammi (2008), kelestariannya memerlukan bantuan manusia dalam bentuk pembibitan massal dan cepat, misalnya kultur jaringan dan diikuti reintroduksi di alam.



(mul/mpr)