Pantauan LAPAN via Satelit Soal Hujan Ekstrem Penyebab Banjir Jabodetabek

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Jumat, 03 Jan 2020 12:03 WIB
Foto: Ilustasi fokus hujan ekstrem guyur Jakarta (Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta - Banjir melanda Jakarta karena hujan lebat yang terus menggunyur. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menganalisis penyebab hujan ekstrem ini melalui satelit.

Sebagaimana diketahui, menurut catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) curah hujan pada Selasa (31/12/2019) mencapai 377 mm di Stasiun Taman Mini, Jakarta Timur. Angka ini merupakan rekor tertinggi intensitas hujan harian yang pernah direkam BMKG.


Dikutip dalam laman resminya pada Jumat (3/1/2019), LAPAN kemudian melakukan analisis kondisi atmosfer melalui SADEWA atau Satellite-Based Disaster Early Warning System merupakan Decission Support System (DSS) yang dikembangkan oleh Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN.

SADEWA menyajikan informasi berbasis pengamatan termasuk liputan awan dari satelit Himawari-8 dan prediksi parameter atmosfer seperti curah hujan, angin, suhu, kelembapan, dan sebagainya. Berdasarkan pantauan Satelit Himawari, sel konveksi (molekul cairan dan gas) yang tumbuh menjadi sistem konvektif skala meso (MCC) terbentuk di sekitar Selat Karimata sejak pagi pada tanggal 31 Desember 2019.


Pembentukan MCC di wilayah tersebut bersamaan dengan pembentukan Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS) di wilayah yang sama. Untuk diketahui, CENS merupakan fenomena meteorologis berupa aliran angin permukaan yang sangat kuat melintasi garis ekuator.

Simak Video "BMKG: Hujan Ekstrem Masih Akan Terus Berlanjut"


Selanjutnya
Halaman
1 2