Dampingi Khofifah Pimpin Jatim, Emil Dardak Cerita Pembagian Tugasnya

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Rabu, 01 Jan 2020 09:07 WIB
Foto: Pemprov Jatim
Jakarta -

Sejak dilantik pada pertengahan Februari 2019, Emil Dardak. Mantan Bupati Trenggalek periode 2016-2019 ini mengakui ada perbedaan yang mendasar dalam tugas memimpin pemerintahan di tingkat provinsi. Misalnya pada penanganan bencana.

"Kami harus fokus ke pendekatan makro, tapi tetap harus membumi dan paham penerapan di tingkat mikro. Sebagai contoh, kalau ada bencana, yang turun ke lapangan tentu terlebih dahulu adalah bupati atau wali kota setempat," ujar Emil dalam keterangan tertulis, Rabu (1/1/2020).

Kecuali, kata Emil, bencana yang berskala besar seperti banjir yang sempat melanda di wilayah sungai Bengawan Solo, hingga kebakaran hutan yang terjadi di berbagai penjuru Jatim, dirinya terjun langsung mengawal upaya penanganan bencana bersama instansi terkait.

"Tapi bukan berarti kita tidak memantau kejadian yang bersifat intra-kabupaten atau kota, dari BPBD melalui pusdalops (Pusat Pengendalian dan Operasi), kita senantiasa memantau terus penanganan di lapangan, dan ikut turun ke lapangan jika memang dibutuhkan", jelas Emil.

Bagi Emil, kepemimpinan Khofifah memang mendorong dilakukannya berbagai gebrakan, namun tidak serta merta mengubah haluan hal-hal baik yang sudah dijalankan di era Gubernur Soekarwo dan Wagub Saifullah Yusuf.

Ia juga menilai tidak ada pembagian tugas khusus antara Wagub dengan Gubernur, karena pada esensinya Wagub harus bisa mendukung setiap tugas Gubernur jika dibutuhkan.

"Ada yang menanyakan karena ibu Gubernur menugaskan saya mengawal pembangunan di selatan Jatim, apakah kemudian ibu Gubernur hanya fokus di utara. Saya katakan itu tidak betul, karena ibu Gubernur adalah pemimpin bagi seluruh Jatim," katanya.

"Saya khusus diminta merumuskan strategi pengembangan dan percepatan ekonomi kawasan selatan, di mana kebetulan saya juga memang dulu menjadi bupati di Trenggalek yang masuk Kawasan selatan. Namun tentu ibu Gubernur turut berperan aktif mengawal percepatan pembangunan di Kawasan selatan Jatim," tambahnya.

Namun, Emil merasa bersyukur bahwa koordinasi lintas instansi berjalan dengan sangat baik, seperti saat pemadaman kebakaran hutan di mana Emil turut ditugaskan Gubernur mengawal koordinasi bersama TNI dan kepolisian serta Perhutani dalam menyusun strategi penanganan darurat kebakaran yang terjadi bersamaan wilayah gunung Arjuno dan gunung Ijen, namun menghadapi keterbatasan unit helikopter water bombing.

"Bupati Banyuwangi meminta water bombing tapi BNPB meminta kami optimalkan helikopter water bombing yang sudah ada. Kami harus mengambil keputusan strategis, apakah operasi pemadaman di Arjuno terus dilanjutkan atau segera bergeser ke Ijen. Kami bersyukur keputusan menetapkan batas waktu pemadaman di Arjuno dan memindahkan ke Ijen membuahkan hasil," tuturnya.

Menurut Emil, beberapa inisiatif strategis yang diusung saat kampanye mulai membuahkan capaian yang positif. Milenial Job Center (MJC) yang telah selesai tahap uji coba berhasil merekrut mentor dan talenta yang kompeten dan memuaskan klien, sehingga siap diperluas dengan target 1000 proyek MJC di 2020.

Inisiatif lain seperti Big Data, Balai Latihan Kerja (BLK) Intensif, juga sudah menunjukkan perkembangan dan siap diperluas di 2020. Untuk inisiatif yang melibatkan pemerintah pusat, terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 68 Tahun 2019 tentang kawasan ekonomi khusus (KEK) Singosari dan Perpres 80/2019 tentang percepatan pembangunan berbasis tiga sistem kewilayahan, akan menjadi fokus Jatim untuk 2020.

"Bersama dengan Omnibus Law di tingkat pusat, saya turut mengawal komitmen ibu Gubernur mengidentifikasi penyederhanaan peraturan terkait perizinan yang menjadi kewenangan Pemprov Jatim, dan kita tengah melakukan verifikasi hasil analisa dinas dan unit kerja Pemprov terkait dengan pandangan langsung dari berbagai elemen masyarakat terkait," jelasnya.

"Untuk KEK Singhasari, Amazon Web Services (AWS) telah setuju dengan usulan kita untuk menjadikan KEK tersebut sebagai pusat inovasi atau launchpad untuk solusi teknologi sektor publik berbasis cloud computing, dan ini akan mendorong keterlibatan banyak talenta IT yang ada di Jawa Timur," pungkas Emil.



(mul/mpr)