Mesin Waktu

Terusan Panama, Kanal dengan Tumbal Puluhan Ribu Nyawa

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Selasa, 31 Des 2019 14:46 WIB
Foto: The Miraflores Locks di Terusan Panama (Wikimedia Commons)
Jakarta - Akhir tahun 1999, Amerika Serikat mengambil alih pengelolaan Terusan Panama. Akuisisi ini mengikuti perjanjian Torrijos-Carter yang ditandatangani 22 tahun sebelumnya di Washington, Amerika Serikat.

Ide kanal untuk menghubungkan Samudra Atlantik dan Samudra Pasifik sudah ada beberapa abad sebelum pembangunan Terusan Panama dimulai. Salah satunya, perjanjian antara Amerika Serikat dan Inggris pada April 1850.


Kedua negara ini bahkan rela menurunkan tensi rivalitas untuk rencana membuat kanal yang membelah Nikaragua, Amerika Tengah. Rencana ini tak pernah terealisasi bahkan sampai tahap perencanaan karena tarik menarik kepentingan di Amerika Serikat.

Konstruksi kanal baru terwujud tepat pada Tahun Baru 1881. Perancis berinisiatif membangunnya melewati Panama. Ferdinand de Lesseps seorang diplomat dipercaya menjadi pimpinan proyek itu.

Berbekal keberhasilan membangun Terusan Suez di Mesir, de Lesseps percaya diri bisa menyelesaikan kanal itu. Apalagi panjang kanal diperhitungkan hanya sekitar 40 persen dari panjang kanal di Mesir yang menghubungkan Laut Tengah (Mediterania) dan Laut Merah.

Rupanya perkiraan de Lesseps keliru. Medan kerja di Panama jauh lebih berat. Berbagai kesulitan teknis menghadang proyek yang berlangsung di wilayah hutan hujan tropis dengan curah hujan sangat tinggi itu.

Penyakit-penyakit tropis seperti demam kuning dan malaria mengancam para pekerja. Kantor Sejarah Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyebut selama sembilan tahun masa konstruksi ada sekitar 20 ribu nyawa melayang karena terserang penyakit itu.

Terusan  Panama, Kanal dengan Tumbal Puluhan Ribu NyawaFoto: Sebuah kapal raksasa melintasi Terusan Panama (iStock)


Sementara Ralph E. Every dalam bukunya The French Failure mengutip pernyataan Kolonel William C. Gorgas, dokter yang bertugas di militer Amerika Serikat bahwa jumlah buruh yang meninggal dari tahun 1881 hingga 1889 mencapai 22.189

Selain masalah kesehatan, keuangan perusahaan konstruksi juga bermasalah seperti inefisiensi dan korupsi. Perusahaan ini mengalami kerugian besar dan berakhir dengan kebangkrutan pada Desember 1888.

Compagnie Nouvelle du Canal de Panama dibentuk untuk mengambil alih pekerjaan itu pada 1894. Salah satu manajernya bernama Phillipe Bunau-Varilla melihat minat Amerika Serikat membangun kanal belum padam. Bunau-Varilla menawarkan proyek itu pada Amerika Serikat.

Respon internal AS atas keterlibatan dalam proyek itu juga beragam. Akhirnya setelah melalui perdebatan sengit, pada 19 Juni 1902 Senat AS memberi dukungan. Kemudian disusul penandatangan perjanjian antara Menteri Luar Negeri AS John Hay dan Menlu Panama Tomas Herran.

As baru bisa mengambil alih proyek itu secara resmi pada 1904. Associate Professor bidang Administrasi Bisnis Universitas Harvard Noel Maurer dalam wawancara dengan program PBS Hour mengungkapkan perusahaan konstruksi yang dibentuk AS mempelajari kekeliruan masa konstruksi sebelumnya.


Hal utama yang dilakukan As yakni menggunakan kereta api untuk mengangkut tanah galian. Sebelumnya perusahaan Perancis hanya menumpuk galian itu yang akhirnya menyebabkan tanah longsor. Penumpukan galian juga menimbulkan banyak kolam genangan air yang menarik nyamuk malaria.

"AS juga membentuk inovasi medis untuk mengendalikan wabah malaria dan demam kuning," ujar Noel Maurer yang juga menulis buku The Big Ditch: How America Took, Built, Ran, and Ultimately Gave Away the Panama Canal. Untuk keperluan ini Kolonel Gorgas yang bertugas di Havana, Kuba ditarik untuk membereskan sanitasi.

Upaya mengelola sanitasi ini memang tidak sepenuhnya menghilangkan serangan malaria dan demam kuning. Namun jumlah pekerja yang jadi korban penyakit itu berkurang signifikan jadi "hanya" sekitar 5600 orang sampai konstruksi tersebut berakhir pada 1914.

Setelah 85 tahun proyek itu berakhir, pengelolaan kanal sepanjang kurang lebih 80 km ini diserahkan pada AS. AS tentunya tidak begitu saja menyerahkan sejumlah properti strategis di Panama sebagai imbalan atas pengelolaan tersebut.

Menurut Ovidio Diaz-Espino, penulis buku How Wall Street Created a Nation: J.P. Morgan, Teddy Roosevelt, and the Panama Canal bahwa pada 1999 AS untuk pertama kalinya menguasai kedua samudra, Samudra Atlantik dan Pasifik. "Itu sangat penting di masa perang," ujarnya dalam program PBS Hour. (pal/fjp)