Kapolri Harus Buka Identitas Diplomat Asing Terlibat Terorisme
Selasa, 22 Nov 2005 22:16 WIB
Jakarta - Kapolri Jenderal Polisi Sutanto didesak membuka identitas diplomat asing yang terlibat dalam kegiatan terorisme di Indonesia. Ini harus dilakukan agar antar diplomat tidak saling curiga mencurigai sehingga mencegah timbulnya keresahan"Saya sarankan itu harus dibuka Kapolri, bila Polri sudah mengidentifikasinya seperti itu. Diplomat mana yang dimaksud, buka saja. Ini dilakukan secara transparan dan diselesaikan secara bilateral dan internasional," kata Gubernur Lemhanas Muladi usai mendampingi peserta kursus reguler angkatan ke XIII Lemhanas saat diterima Wapres Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jakarta, Selasa (22/11/2005).Namun begitu jika masih ada kesimpangsiuran terhadapa masalah ini, sebaiknya diplomat asing yang terlibat kegiatan terorisme d Indonesia tidak disebutkan negara asalnya. "Karena ini juga akan menimbulkan masalah diplomatik," ujarnya.Muladi mengatakan, jika nanti Kapolri sudah mengidentifikasi dipolmat asing yang terlibat maka harus mereka harus diberikan sanksi. "Diplomat yang terlibat harus diberi sanksi. Dalam terorisme tidak ada kekebalan hukum," ujarnya.Sanksi yang diberikan bisa berupa ekstradisi atau sanksi lainnya. "Tapi tergantung negara masing-masing negara dan negara itu lah yang akan mengadilinya," katanya.Ketika apakah ada kesepakatan antara Lemhanas dengan Wapres untuk membatasi diplomat asing seperti yang pernah dilakukan pemerintah terhadap GAM dengan menjadi semacam penengah. "Kalau penengah dalam arti dialog itu OK. Tapi kalo kita bargaining terhadap teroris itu saya kira tak bisa dibenarkan. Ini beda dengan GAM karena GAM bukan teroris," urainya.Dalam acara itu wapres menyatakan, timbulnya terorisme di Indonesia terjadi karena pikiran ketidakadilan yang terjadi di negara lain, sehingga merubah sikap para pemuda. "Masalah teroris Afghanistan dibom. Kita bom saja di sini. Mereka tak berpikir lain," kata Kalla."Kalau boleh begitu ya begitu. Mereka pikir itu sudah benar, walapun ajaran agama itu salah," urainya. Namun pikiran ketidakadilan ini yang merubah sikap mereka.
(mar/)











































