Diumpan Bangkai Beracun, Empat Harimau Sumatera Mati
Selasa, 22 Nov 2005 17:57 WIB
Padang - Sungguh malang nasib empat harimau sumatera ini. Mereka ditemukan mati diracun. Kulitnya yang indah lantas diambil.Bangkainya lantas dikubur warga Jorong Durian Jantung, Nagari Batu Basa, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), Senin (21/11/2005). Polisi yang menyelidinya menyimpulan macan-macan itu mati karena diracun. Kapolresta Pariaman, AKBP Yadi Prariyadi, ketika dihubungi detikcom melalui ponselnya, Selasa (22/11/2005) mengatakan, ketika tempat penguburannya dibongkar, polisi menemukan empat bangkai harimau sumatera tersebut dalam kondisi sudah dikuliti. "Kami menduga penyebab kematian empat harimau itu karena diracun. Berdasarkan keterangan yang kami himpun, bangkai harimau itu ditemukan tidak jauh dari bangkai seekor sapi yang sebelumnya telah dilumuri racun pada Sabtu lalu," ujarnya.Dikatakan Yadi, dari keempat bangkai harimau tersebut, yang paling besar memiliki panjang badan sekitar 1,5 meter dan tiga lainnya berpostur lebih kecil. "Kami akan berusaha mengusut tuntas kasus ini," janjinya.Sementara itu, penyidik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, Djoko Suhardjo, ketika dihubungi detikcom di kantornya, Jalan Raden Saleh, Selasa (22/11/2005) mengaku pihaknya sudah mengirimkan tim untuk mempelajari matinya empat hewan langka tersebut."Berdasarkan pasal 21 UU Nomor 5 Tahun 1990, pelaku pembunuhan harimau tersebut terancam hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta," ujarnya.Dikatakan Djoko, saat ini populasi harimau sumatera diperkirakan hanya tinggal sekitar 200-300 ekor saja. Selain disebabkan maraknya praktek illegal logging dan perubahan fungsi lahan, faktor sulitnya harimau sumatera melahirkan anak juga menjadi penyebab semakin menyusutnya populasi hewan yang sering dijadikan lambang kejantanan tersebut."Satu ekor induk harimau sumatera hanya mampu melahirkan satu sampai dua ekor anak dalam jangka waktu lima tahun. Kondisi seperti itu hanya berlaku bila sang induk dapat menemukan pejantan yang subur pada masa kawinnya," terang Djoko.Djoko mengimbau warga warga yang tinggal di sekitar hutan konservasi untuk lebih berhati-hati. "Sepanjang November dan Desember merupakan musim kawin harimau sumatera. Pada masa ini, harimau-harimau itu biasanya sangat sensitif dan bisa saja menyerang bila merasa terganggu," ujarnya. Lebih lanjut Djoko menerangkan, harimau sumatera dapat ditemukan di 23 lokasi konservasi dari 31 wilayah konservasi di Sumbar, antara lain di cagar alam Rimbo Panti (Kabupaten Pasaman), Palupuh (Kabupaten Agam), Lembah Arau (Kabupaten Limapuluh Kota), Lembah Anai (Kabupaten Padang Pariaman), Beringin Sakti (Kabupaten Tanah Datar), dan lainnya.
(nrl/)











































