Perjuangan Hakim Agung 'Bernilai' Rp 16 Triliun Melawan Tumor Lidah

Jefrie Nandy Satria, Andi Saputra - detikNews
Senin, 30 Des 2019 08:31 WIB
Foto: Hakim agung Prof Takdir Rahmadi (ari/detikcom)

Nah, sebagai hakim agung berlatarbelakang hukum lingkungan, berbagai kasus keperdataan di bidang lingkungan ia adili. Seperti saat mengadili pembalak hutan ribuan hektare PT Merbau Pelalawan Lestari. Takdir bersama Nurul Elmiyah dan IDA Sumanatha menjatuhkan hukuman Rp 16 trililun kepada perusahaan itu.

"Bahwa kegiatan pemanfaatan hutan adalah termasuk kegiatan yang harus tunduk pada asas keberhati-hatian karena hutan merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang di dalamnya terdapat pelbagai tumbuhan dan hewan-hewan yang perlu dilindungi dari kepunahan karena kawasan hutan dan unsur-unsur yang hidup di dalamnya memiliki banyak fungsi selain fungsi ekonomi, juga fungsi ekologis sebagai sumber obat-obatan, habitat satwa, penjaga tata air dan pembersih ruang udara," kata Takdir dkk membeberkan alasan menjatuhkan vonis terbesar sepanjang sejarah itu.


Ternyata, perusahaan tersebut juga mendapatkan fasilitas dari Gubernur Riau Rusli Zainal dalam usahanya. Belakangan, Rusli dihukum 14 tahun penjara karena korupsi.
Perjuangan Hakim Agung 'Bernilai' Rp 16 Triliun Melawan Tumor Lidah

Trio Takdir-Nurul-Sumanatha juga uang menghukum pembakar hutan Aceh, PT Kallista Alam sebesar Rp 366 miliar. Sebab PT Kallista Alam membakar sekitar seribu hektare hutan yang berada dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) pada pertengahan 2012 lalu.


Selain mengadili kasus lingkungan, Takdir juga mengadili berbagai kasus perdata. Kasus yang menarik perhatian publik di antaranya sengketa persekongkolan tender bus Transjakarta pada 2013 silam. Takdir menguatkan keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan menghukum 16 perusahaan tender dengan denda total Rp 68 miliar lebih.

Takdir juga memerintahkan Alfamart agar membuka pengelolaan donasi dari konsumen kepada publik.
Halaman

(asp/dnu)