Hemat BBM, Menneg Ristek Usul Solar Diganti Minyak Jarak

Hemat BBM, Menneg Ristek Usul Solar Diganti Minyak Jarak

- detikNews
Selasa, 22 Nov 2005 14:46 WIB
Jakarta - Segala cara bisa dilakukan untuk menghemat penggunaan BBM. Salah satunya mengganti solar dengan minyak jarak.Usul itu disampaikan Menneg Ristek Kusmayanto Kardiman saat membuka seminar nasional standarisasi di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Selasa (22/11/2005).Penggantian minyak solar dengan minyak yang berasal dari pohon jarak, kata Kus, sangat menguntungkan jika ditinjau dari segi ekonomi maupun ketergantungan terhadap minyak bumi.Apalagi, kata dia, saat ini jumlah lahan kritis di Indonesia ada 20 juta hektar. Jika dari lahan kritis yang ada, sebanyak 10 juta hektarnya dimanfaatkan untuk lahan penghasil energi, maka pemerintah bisa berhemat dan mengalihkan 40 persen kebutuhan BBM (total 70 juta liter/tahun) ke minyak jarak atau bioethol. Bahkan mendapat keuntungan.Kus mengasumsikan, untuk satu hektar tanah diperlukan sekitar 2.500 bibit pohon jarak dengan harga Rp 700/pohon. Sementara harga mesin pengolahnya Rp 75 juta per 10 hektar lahan."Jika diasumsikan harga bioethol Rp 4.000, maka masih ada selisih keuntungan Rp 300/liter dari minyak solar yang sekarang harganya Rp 4.300/liter. Tentu ini sangat membantu perekonomian," kata dia. Sayangnya, penggunaan minyak jarak tidak semudah yang dibayangkan. Saat ini, kata Kus, pihaknya masih terbentur pada sistem tata niaga dan kebijakan dari pemerintah. Padahal, jika urusan tata niaga sudah berhasil pada akhir tahun 2005, dan presiden menerbitkan Inpres, maka tahun 2009, minyak jarak bisa memenuhi 5 persen kebutuhan BBM dalam negeri."Ini merupakan peluang yang bagus dan membuka potensi bisnis serta lapangan pekerjaan yang luas," katanya.PLTNMengenai rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), Kus mengatakan, pihaknya sudah melakukan beberapa naskah untuk standarisasi, dan yang paling penting adalah edukasi publik. Jika masyarakat tidak menerima atau menolak, tentu hal itu akan sia-sia.Padahal PLTN sangat dibutuhkan di Indonesia, mengingat energi yang dihasilkan paling murah, yakni 1 kwh dihargai 4 sen. "Dan itu hanya bisa didekati dengan batubara yang baru diangkat dan langsung dibakar. Tapi itu kurang efektif," katanya.Saat ini edukasi publik hanya dilakukan dengan menggunakan tulisan-tulisan, baik di media cetak maupun elektronik.Mengenai dampak pencemarannya, Kus mengatakan, hal itu sudah dipikirkan. "Dan saya berani mengatakan lebih banyak orang mati dan pencemaran dari non-nuklir ketimbang nuklir. Itu menurut catatan kami selama 20 tahun," katanya. (umi/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads