Digelar Pemprov Jatim, Millennial Job Center Diikuti Perusahaan Bonafide

Nurcholis Maarif - detikNews
Minggu, 29 Des 2019 12:05 WIB
Foto: Dok. Pemprov Jatim
Jakarta - Millennial Job Center (MJC) yang menjadi bagian dari program kerja Nawa Bhakti Satya Pemprov Jawa Timur mendapat sambutan positif. Klien yang meminati MJC bukan hanya dari kalangan instansi pemerintah, tetapi juga perusahaan-perusahaan besar seperti Gojek, PT Santos Kopi Kapal Api, Kimia Farma, Bank Jatim, dan Hutama Karya.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan, MJC masuk di program kerja Bhakti 2 di Nawa Bhakti Satya, yaitu Jatim Kerja. MJC merupakan wadah pertukaran informasi dan jaringan di antara client-mentor-talent yang bertujuan untuk menciptakan ekosistem freelancer yang kompetitif dan kondusif di Jawa Timur.

"Millennial Job Center adalah wujud kehadiran pemerintah di tengah masyarakat dalam menyambut era Gig Economy," ungkap Emil, sapaan akrabnya, dalam keterangan tertulis, Minggu (29/12/2019).


Emil mengungkapkan, MJC menjadi terobosan baru dalam mengurangi angka pengangguran di provinsi paling timur di Pulau Jawa ini. Saat yang sama juga memberi akses bagi perusahaan di Jatim untuk mengakses tenaga profesional dalam meningkatkan daya saing di era digital.

"Sampai saat ini, selain 60 klien, Millennial Job Center juga sudah melibatkan 40 mentor dan 70 talent. Ada yang dari digital marketing, social media management, sound specialist, game developer, event organizer, web development, content creator hingga travel dan photo blogger," jelas Emil.

Emil menjelaskan, jumlah angkatan kerja di Indonesia sangat besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga Mei 2019 jumlah angkatan kerja sebanyak 136,18 juta. Dari jumlah itu, sebanyak 129,36 juta orang memiliki pekerjaan, sedangkan 6,82 juta orang lainnya menganggur.

Ia juga mengutip data Sribulancer.com, 129,36 juta orang yang mempunyai pekerjaan itu, ternyata sebanyak 4,55% (sekitar 5,89 juta orang) adalah freelancer.

"Jumlah itu juga terus meningkat. Tahun ini, angka freelancer di Indonesia meningkat 16% dari tahun 2018," ungkap Emil.

Emil menilai, pertumbuhan jumlah freelancer itu cukup tinggi. Hal itu menunjukkan bahwa profesi freelancer semakin diminati, terutama di industri kreatif. Meski begitu, masih ada persoalan yang dihadapi oleh para freelancer di Jawa Timur.

Kata Emil, kesulitan membangun jam terbang sebagai freelancer diatasi MJC yang mempertemukan talenta baru dengan klien di mana mentor yang berpengalaman akan memberikan bimbingan.

"Nah, Millennial Job Center inilah yang akan menjadi solusinya. MJC akan mempertemukan freelancer atau talenta baru dengan industri dan pihak lain yang membutuhkan atau klien, namun juga melibatkan mentor berpengalaman sehingga klien akan lebih yakin untuk mempercayakan proyek freelance," ucap Emil.


Sementara itu, Menurut Sekda Jawa Timur Heru Tjahjono, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa telah menegaskan komitmen Pemprov untuk melanjutkan MJC ke tahap implementasi di 2020.

"Kami sedang mematangkan aspek kelembagaan untuk menyongsong implementasi MJC di tahun mendatang", jelas Heru.

Sebagai informasi, MJC diklaim Pemprov Jatim sebagai kali pertama pemerintah daerah melakukan pengembangan lapangan kerja dengan konsep Gig Economy, sebuah tren ekonomi yang sedang berlangsung di dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Dalam Gig Economy, sumber daya manusia tidak hanya memiliki opsi sebagai pegawai tetap atau pengusaha, namun juga sebagai pekerja lepas atau freelance yang berbasis profesi era milenial seperti desain, multimedia, programming, digital marketing dan profesi ekonomi kreatif dan digital lainnya. (prf/ega)