Ludes Hingga Cetakan ke-3, Buku Imam Samudra Akan Dikaji
Selasa, 22 Nov 2005 11:59 WIB
Yogyakarta - Buku karya Imam Samudra laris manis hingga dicetak tiga kali. Kini buku sang terpidana mati bom Bali itu sulit dicari. Karena isinya disinyalir menyuarakan ajakan jihad yang salah, Departemen Agama dan MUI pun akan mengkajinya.Buku bertajuk "Aku Melawan Teroris" itu setebal 281 halaman, berisi autobiografi sang gembong teroris yang kini mendekam di LP Batu, Nusakambangan, Jawa Tengah, ini.Dalam buku ini, Imam Samudra alias Abdul Aziz alias Kudama menuturkan panjang lebar mengenai pemahamannya terhadap jihad, gerakan melawan AS dan sekutunya, bom Bali dan alasan-alasannya, dan sisi-sisi human interest Imam Samudera.Karena isi bukunya lebih banyak berisi pandangan-pandangan Imam Samudra terhadap apa yang dilakukannya, Menteri Agama Maftuch Basyuni meminta kepada Bagian Penelitian dan Pengembangan di departemennya untuk meneliti buku ini. "Hal ini dilakukan agar tidak dipamahi keliru oleh para pembacanya," kata Sekjen Depag Faisal Ismail.Ketua Fatwa MUI Maruf Amin juga mengamini langkah Menteri Agama. "Kita juga sedang mengagendakan meneliti buku Imam Samudra. Terus terang kita terkejut buku bertema jihad dan terorisme itu sudah beredar hingga cetakan ke-3. Tak tertutup kemungkinan merekomendasikan ke Kejagung untuk melarang peredaran buku ini," tegasnya.Melihat keseriusan dua lembaga tersebut, detikcom mencoba menelusuri peredaran buku tersebut. Beberapa toko buku di Jakarta dan Yogyakarta didatangi. Namun, meski sudah keluar masuk toko buku, ternyata tidak juga didapat.Termasuk Toko Buku Sosial Agency di Jalan Prof. Yohannes, Sagan, Yogyakarta, yang beberapa bulan lalu masih memajang buku ini, namun pada Selasa (22/11/2005), buku tersebut sudah tidak ada. "Buku itu sudah habis sejak bulan Agustus lalu," ujar salah seorang staf toko buku tersebut.Dalam catatan detikcom, buku karangan Imam Samudra ini selalu habis setiap kali dicetak dan diedarkan. Sampai saat ini, Penerbit Jazeera Solo sudah mencetak ulang sebanyak tiga kali. Sementara untuk cetakan keempat belum dilakukan.Buku ini sebelumnya beredar luas di beberapa toko buku di Yogyakarta. Buku ini dijual pertama kali di Islamic Book Fair September 2004 lalu di Yogyakarta. Dalam pameran buku yang berlangsung selama satu minggu tersebut, memasuki hari ketiga sudah ludes diserbu pembeli.Demikian halnya pada bulan puasa tahun 2004 lalu, buku cetakan ulang sempat beredar luas di masjid-masjid. Namun dalam tempo singkat juga langsung habis. "Saya sempat mencari sampai Solo, ternyata susah didapat," kata Fatur, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM.
(jon/)











































