Cara Pemkot Semarang Dorong Masyarakat Kelola Sampah

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Kamis, 26 Des 2019 15:10 WIB
Foto: Dok. Pemkot Semarang
Jakarta - Pemerintah Kota Semarang terus berbenah dalam pengelolaan sampah. Sekda Kota Semarang, Iswar Aminuddin menyebutkan peningkatan jumlah penduduk berbanding lurus dengan produksi sampah di suatu kota, tak terkecuali Kota Semarang.

"Menurut DLH, setiap harinya menghasilkan 1.400 ton sampah ke TPA Jatibarang. Bahkan tidak sampai 2046, produksi sampah dapat mencapai 2.000 ton per hari," kata Iswar dalam keterangan tertulis, Kamis (26/12/2019).

Tak hanya berhenti di regulasi tentang pengendalian penggunaan plastik, Pemkot Semarang juga mendeklarasikan gerakan #semarangwegahnyampah, serta menyelenggarakan Workshop Pemanfaatan Sampah.


Tak hanya melarang penggunaan plastik seperti kantong, sedotan, dan gelas plastik serta styrofoam, Pemkot Semarang juga mendorong masyarakat untuk melakukan pemanfaatan sampah agar tidak langsung terbuang di TPS Jatibarang.

"Pengelolaan sampah hendaknya dilakukan dari hulu hingga hilir, tidak dapat dikerjakan pemerintah seorang diri, namun juga membutuhkan peran aktif masyarakat. Sayangnya, mindset masyarakat kita masih menganggap bahwa sampah adalah barang sisa pakai, tak bernilai dan tak bermanfaat," ujarnya.

Padahal, lanjutnya, bila masyarakat memiliki kemauan untuk mengelola sampah, maka masyarakat akan menemukan sebuah barang yang memiliki value untuk peningkatan ekonomi maupun nilai kegunaannya, seperti listrik, pupuk atau barang-barang reuseable lainnya.

Sementara itu, Alexander Iqbal dari Kertabumi menyebutkan untuk membangun gaya hidup nol sampah dimulai dengan cara sederhana, yaitu dengan menghabiskan makanan. Selain itu, dengan memberi nyawa kedua pada sampah.

"Artinya tidak kemudian dibuang, tetapi dengan mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat," kata Iqbal.

Kertabumi Klinik Sampah yang didaulat sebagai fasilitator workshop berharap dapat memberikan pengalaman mengolah & mengubah sampah sehingga memiliki value/nilai lebih kepada para peserta.

Kegiatan workshop ini dibagi menjadi beberapa sesi mulai dari Edukasi Sampah, Daur Ulang Minyak Jelantah menjadi Lilin, Daur Ulang Kresek menjadi Sarung HP, Daur Ulang Kemasan Plastik menjadi Bantal. B

Berbagai macam produk daur ulangnya pun dipamerkan saat pelaksanaan workshop berlangsung seperti kresek yang diubah menjadi tas, kresek menjadi sendal jepit, tutup botol diubah menjadi ubin, botol plastik menjadi anting-anting, dll.


Antusiasme peserta pun sangat tinggi. Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan dari pengelola Bank Sampah di sejumlah Kelurahan, perwakilan komunitas, desainer, guru, hingga aktifis lingkungan.

Ani perwakilan dari Komunitas Orangtualogy menyebutkan bahwa kegiatan ini sangat edukatif dan bermanfaat.

"Saya senang, di sini saya jadi tahu bagaimana mengolah limbah yang saya hasilkan sehingga menjadi sesuatu yang bermanfaat. Rencananya pun akan saya bagikan ke komunitas agar informasinya dapat mengalir dan dimanfaatkan juga untuk orang lain," pungkasnya.

Dari workshop ini, ia berharap warga Semarang memiliki kesadaran betapa pentingnya mengolah sampah secara mandiri. Sampah rumah tangga, khususnya yang banyak ditemui adalah kantong kresek, bisa didaur ulang dan menjadi barang yang bermanfaat. (prf/ega)