Uskup Agung Pertanyakan Isu Pelecehan di Gereja: Datanya dari Mana?

Jefrie Nandy Satria - detikNews
Rabu, 25 Des 2019 18:22 WIB
Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Suharyo/Foto: Jefrie/detikcom
Jakarta - Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo mempertanyakan adanya isu yang diklaim bersumber dari data KWI soal pelecehan seksual yang dilakukan pihak gereja Katolik di Indonesia. Dia mengaku tidak pernah mendapat data atau laporan tersebut.

Isu itu berembus dari artikel salah satu situs di internet, dengan konfirmasi dari pihak Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI). Namun Suharyo yang juga merupakan ketua presidium KWI ini menyatakan sama sekali tidak tahu menahu.

"Saya sebagai Uskup Keuskupan Agung Jakarta dan sebagai Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) tidak pernah menerima laporan seperti itu. Maka saya mempertanyakan itu KWI yang mana ya bicara atas nama KWI, bicara tentang perkara itu," kata Kardinal Suharyo di Gereja Katedral, Jalan Katedral, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu (25/12/2019).

"Jadi kalau tanya ke saya, ndak ngerti. Tanyakan kepada yang menulis itu dari mana dia mendapat data dan apakah data itu valid atau tidak atau secara etis melanggar etika atau tidak," sambungnya.

Sebagai ketua dan mengaku tidak mengetahui data tersebut, dia justru mempertanyakan pihak yang menyebarkan data tersebut kenapa mengatasnamakan KWI. Dia kemudian menyampaikan sikap pemimpin Gereja Katolik dunia, Paus Fransiskus, mengenai pelecehan seksual di lingan gereja.

"Paus itu jelas sekali sikapnya. Beliau sangat keras, sangat tegas terhadap pastor-pastor yang melakukan pelecehan seksual terhadap, spesifik ya, anak dan orang dewasa yang lemah, itu artinya cacat, difabel dan seterusnya," ucap Suharyo.

Suharyo mengatakan Paus Fransiskus begitu tegas terhadap persoalan pelecehan yang dilakukan oleh pemuka gereja. Karena pastor seharusnya menjaga, bukan menjadi predator.

"Artinya begini, pastor itu kan mestinya menjaga umatnya. Tetapi dalam kasus pelecehan seksual terhadap anak dan terhadap orang dewasa yang lemah, itu dia menjadi predator, tidak menjalankan tugasnya tapi sebaliknya, malah mencelakakan. Sebab itu, Paus keras," ujarnya.



Suharyo mengatakan peraturan agama Katolik terkait menindakan kasus-kasus semacam juga memandang konteks dan tidak dapat disamakan di tiap negara. Dia mengingatkan agar untuk lebih mawas diri dalam menyikapi informasi ini.

"Jadi saya hanya mau mengatakan, kita mesti hati-hati benar dengan perkara-perkara seperti itu. Karena apa, karena ini masalah yang menyangkut pribadi orang. Kalau dijadikan bahan jual beli, maksud saya dijadikan bahan yang secara sekedar jadi berita yang nanti tidak dipertanggungjawabkan secara moral itu jadi susah bukan main," imbau Suharyo. (jef/fjp)