AJI: Ada 53 Kasus Kekerasan terhadap Jurnalis Sepanjang 2019

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Senin, 23 Des 2019 17:52 WIB
Ketua Umum AJI, Abdul Manan (Wilda HN/detikcom)

Selain itu, AJI menyoroti pemblokiran yang dilakukan pemerintah terhadap peristiwa besar yang terjadi pada 2019. Dalam hal ini, AJI menyayangkan dalih penyebaran berita bohong yang diklaim oleh pemerintah jika pemblokiran internet ini tidak dilakukan.

"Pemblokiran ini berdampak pada kerja jurnalis dan juga menghambat hak masyarakat mendapatkan informasi. Atas tindakan pemblokiran internet di Papua pada bulan Agustus tersebut, AJI memutuskan menggugat pemerintah ke PTUN Jakarta dengan harapan tindakan tersebut tidak diulangi lagi di kemudian hari," kata Manan.



AJI juga menemukan kasus kekerasan terhadap jurnalis perempuan, yaitu Anggi Widya Permani, jurnalis Suara Surabaya, saat meliput pertandingan sepakbola di Surabaya pada 9 April 2019 dan terhadap Fitri Rachmawati saat meliput kasus korupsi di Mataram pada 9 Juli 2019.

Kemudian AJI juga mencatat, pada 2019, masalah yang dihadapi adalah terjadinya disrupsi digital. Langkah efisiensi, kata Manan, harus segera dilakukan oleh sejumlah perusahaan.



"Dampak nyata dari situasi ini (disrupsi digital) adalah makin sulitnya ekonomi media dan ini yang menjadi pendorong utama sejumlah langkah efisiensi dan juga pemutusan hubungan kerja di sejumlah perusahaan media. Selain itu, migrasi secara penuh ke digital juga terus terjadi karena menyusutnya pembaca dan berkurangnya iklan media cetak," ujar Manan.

Selain itu, AJI menyinggung soal tertundanya revisi UU Penyiaran yang akan digagas oleh DPR periode 2009-2014. Kemudian AJI juga menyinggung gaji pekerja media yang ditunda dan dicicil.
Halaman

(dnu/dnu)