Dua hari setelah menjadi Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Inspektur Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah bertemu dengan tim teknis yang menangani kasus penyerangan air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Tim, kata dia, telah mendapatkan temuan baru yang signifikan tapi masih perlu didalami dan dipertajam agar tidak keliru.
"Tentunya saya tidak ingin mengecewakan masyarakat, tim teknis juga serius, kita tidak bermain-main dalam menangani kasus Novel Baswedan," kata mantan Kapolda Banten itu saat ditemui Tim Blak-blakan detik.com di ruang kerjanya pekan lalu. Setelah semuanya yakin bahwa hasil analisa sudah mengarah kepada sasaran yang tepat, ia melanjutkan, "kita segera mengambil langkah."
Kabareskrim Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan tingginya tingkat kesulitan kasus Novel sehingga perlu kejelian dan kehati-hatian dalam mencari alat bukti. Karena tanpa kejelasan terkait pembuktian justru akan beresiko bagi pihaknya.
"Secepatnya, pokoknya doakan saja, yang jelas saya tidak bisa bicara banyak, tapi kita akan buktikan kita serius, seperti harapan presiden perintahnya jelas," pungkas mantan ajudan Presiden Joko Widodo itu.
Saat menerima Kepala Polri Jenderal Idham Aziz, Presiden Jokowi kembali menagih penyelesaian kasus Novel. Presiden meminta polisi secepatnya mengungkapkan kasus tersebut.
Baca juga: Janji Perdana Kabareskrim Baru |
"Saya tidak berbicara masalah bulan. Kalau sudah saya bilang secepatnya. Berarti dalam waktu harian," tegas Jokowi pada 9 Desember lalu.
Selain mengungkap kasus Novel Baswedan, Kabareskrim Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan sejumlah kasus yang menjadi prioritas dan fokus perhatiannya. Salah satunya adalah pemberantasan mafia migas. Ia membentuk satuan tugas khusus untuk menangani praktik impor BBM yang kerap terjadi tanpa sesuai kebutuhan sehingga mengganggu neraca keuangan negara.
Mafia migas ini juga ditengarai menjadi penyebab Pertamina selama ini tidak pernah berhasil membangun fasilitas kilang minyak baru. Untuk memetakan permasalahan di sektor migas, lulusan Akademi Kepolisian 1991 itu berkoordinasi dengan Direksi Pertamina termasuk Komisaris Utama Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok.
"Jangan sampai di akhir tahun begini ada upaya menambah impor. Kita ingin memastikan betul gak kebutuhannya, jangan sampai ada upaya sabotase memaksa pemerintah untuk impor," ujarnya.
Selengkapnya, saksikan Blakblakan Kabareskrim Irjen Listyo Sigit Prabowo, "Menuntaskan Kasus Novel Baswedan-Memberantas Mafia Migas", di detik.com, Senin (23/12/2019).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(hnf/jat)











































