Nasir Abas Tulis Buku untuk Bantah Imam Samudra

Nasir Abas Tulis Buku untuk Bantah Imam Samudra

- detikNews
Senin, 21 Nov 2005 20:55 WIB
Yogyakarta - Mantan Ketua Mantiqi Tsalis III Jamaah Islamiyah (JI), Nasir Abas mengatakan buku yang berjudul Membongkar Jamaah Islamiyah; Pengalaman Mantan Anggota JI merupakan bantahan terhadap buku "Aku Melawan Teroris" yang ditulis oleh terpidana kasus bom Bali I Imam Samudra.Bantahan terhadap buku karangan Imam Samudra itu terutama berkaitan dengan masalah jihad serta kebohongan yang dilakukannya.Hal itu dikatakan oleh Nasir Abas dalam acara diskusi buku "Membongkar Jamaah Islamiyah; Pengakuan Mantan Anggota JI" di gedung Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga di Jl Laksda Adisucipto Yogyakarta, Senin (21/11/2005)."Meski buku ini kami tulis berdasarkan pengalaman pribadi sebagai mantan orang JI, tapi bantahan terhadap paham yang membenarkan aksi bom ditempat orang awam (sipil) dengan mengatasnamakan jihad dan Islam," kata Nasir yang saat ini sibuk dengan menulis buku dan menghadiri beberapa acara seminar dan diskusi itu.Buku itu, lanjut dia, boleh pula dikatakan sebagai bantahan terhadap beberapa kasus bom Bali dan bom-bom di tempat lainnya yang mengatasnamakan jihad dan Islam. Bahkan ada sebagian orang yang mengatakan buku ini sebagai bantahan buku "Aku Melawan Teroris" Imam Samudra. "Buku ini mencoba memberikan jawaban atas semua tudingan atau kecurigaan di antara kita tentang kelompok JI," kata Nasir.Nasir menjelaskan buku setebal 332 halaman itu ditulis berdasarkan pengalamanan penulis sendirian beberapa teman yang pernah bersama-sama di Afghanistan dan Pakistan. Termasuk pula pengalaman Nasir saat bersama-sama dengan beberapa pelaku bom Bali I di organisasi JI, baik di tingkat pimpinan sampai pada tingkat anggota pelaksana di lapangan dan latar belakang serta kemampuan mereka dalam menggunakan perlengkapan militer dan bahan peledak."Jadi buku ini diharapkan dapat memberikan jawaban dan diupayakan bisa menjawab berbagai pertanyaan seperti apakah JI itu, sejak kapan JI itu terbentuk dan aktivitasnya dan apa yang diperjuangkannya," tegas Nasir yang sudah menyatakan keluar dari JI seja pertengahan tahun 2003 itu.Selain itu, Nasir mengaku ingin mengingatkan sesama Muslim kepada teman-teman yang terlibat aksi pemboman di tempat yang bukan medan perang atau orang yang berhasrat melakukan seperti itu agar segera menghentikan. Sebab cara seperti itu bukan jihad, tetapi membuat kerusakan di muka bumi."Jihad seperti itu sesat. Aksi bom bunuh diri yang kerap terjadi selama ini tidak dilakukan oleh organisasi JI, tetapi dilakukan oleh anggota JI yang menyimpang dari ajaran JI," kata Nasir yang pernah masuk dan menjadi instruktur di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan milik Mujahidin Afghan selama enam tahun itu.Dia mencontohkan kelompok JI yang menyimpang itu antara lain Hambali yang menginginkan kasus Ambon dibawa ke konflik nasional dan internasional. Namun waktu itu para petinggi JI khususnya Mantigi II dan III menolak dan memilih untuk mengucilkan Hambali."Karena ditolak itu, Hambali kemudian merekrut orang-orang yang mendukung idenya, dan sebagai realisasinya dengan melakukan bom Natal tahun 2000, termasuk bom di kedubes Manila," kata Nasir.Menurut Nasir, kelompok Hambali juga melakukan aksi menyimpang, yaitu melakukan aksi perampokan di Malaysia untuk mendanai jihad Ambon. Dalam aksi tersebut, satu orang tertembak mati, satu orang tertembak dan ditangkap. Pelaku perampokan adalah pengusaha dan pegawai berpenghasilan tinggi, dan mereka merampok untuk membiayai jihad di Ambon.Polisi Malaysia pun menyimpulkan perampokan itu bukan kriminal biasa dan sudah masuk ideologi. Sejak tahun 2001, nama JI pun mencuat akibat ulah anggota yang menyimpang. "Kasus tersebut sempat membuat petinggi JI marah karena sudah mencoreng-moreng nama organisasi," jelas Nasir Abas. (ary/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads