1 Tahun Tsunami Selat Sunda, Warga Huntara Keluhkan Fasilitas dan WC Rusak

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Minggu, 22 Des 2019 12:46 WIB
Huntara korban tsunami Selat Sunda. (Bahtiar/detikcom)
Serang - Nursidik, korban tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018, masih ingat bagaimana air laut merusak tempat tinggalnya. Satu kampung di Karet, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Pandeglang, hancur diempas tsunami.

Saat ini, ia bersama 130 kepala keluarga menempati hunian sementara (huntara) di Kampung Citanggok, Labuan. Kebanyakan, penghuni adalah korban yang rumahnya hancur persis di bibir pantai. Mereka mayoritas nelayan atau pedagang ikan.

1 Tahun Tsunami Selat Sunda, Warga Huntara Keluhkan Fasilitas dan WC RusakHuntara korban tsunami Selat Sunda. (Bahtiar/detikcom)

"Masih inget kejadiannya, rumah hancur. Itu ketahuan datang gelombang air, yang kedua dan ketiga datang lagi air dari laut yang keempat yang paling besar," kata Nursidik saat ditemui detikcom di Labuan, Pandeglang, Minggu (22/12/2019.



Beruntung, dia dan keluarganya serta warga kampung masih sempat melarikan diri. Hanya, tempat tinggalnya rata dengan tanah akibat tsunami.

Belakangan, Nursidik sudah jarang mencari ikan di laut. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan bantuan jaminan Rp 10 ribu per kepala yang diberikan pemerintah. Itu pun terakhir kali diberikan pada November dalam bentuk rapelan.


Tonton juga Gempa Malut-Sulut Berpotensi Tsunami, Warga Manado Terasa Guncangan Kuat :


Selanjutnya
Halaman
1 2