Bapak dan Anak Tewas Terseret Banjir Malang
Senin, 21 Nov 2005 18:09 WIB
Malang - Hujan deras selama sekitar 3 jam yang mengguyur Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (20/11/2005) kemarin petang, memakan 2 korban jiwa dan puluhan rumah rusak serta ratusan rumah tergenang air. Dari pantauan detikcom, hingga saat ini ratusan penduduk yang tinggal di Jalan Janti, Kecamatan Sukun, Malang, masih mengungsi akibat rumah mereka yang berada dibawah Daerah Aliaran Sungai (DAS) Sungai Amprong masih tergenang luapan air setinggi 30 centimeter. Dua orang korban meninggal akibat luapan air adalah Salim dan Karyanto, warga Kelurahan Mergosono, Kecamatan Kedung Kandang, Malang. Bapak dan anak tersebut tewas saat mereka mencoba membendung laju air sungai di depan rumah mereka dengan menggunakan bahan material bangunan. Namun arus sungai yang begitu kencang membuat dua orang tersebut terseret arus dan terpeleset kedalam sungai sedalam 2 Meter. "Saya sudah peringatkan Pak Salim agar berhenti membendung. Tapi mereka tidak menghiraukan teriakan saya," kata saksi yang juga tetangga korban, Ahmad Mardani, kepada beberapa wartawan di rumahnya, Senin (21/11/2005). "Sesaat setelah Pak Salim terpeleset dan terbawa air, saya dan Karyanto mencoba mengejar dan mencegat. Namun, Karyanto sendiri juga terpeleset dan terbawa arus air," ujarnya sedih. Kedua korban meninggal yang terseret arus sungai itu baru bisa ditemukan Senin tadi setelah Tim SAR melakukan penyisiran sejak pagi di sepanjang Sungai Amprong yang bermuara di Kali Brantas. Hingga saat ini sebagian warga yang rumahnya masih tergenang air belum berani kembali ke rumah. Mereka takut hujan deras seperti kemarin akan mengguyur lagi dan mengakibatkan sungai meluap hingga menggenangi rumah mereka kembali. Banjir yang terjadi di Kelurahan Mergososno, Kecamatan Kedung Kandang, Kota Malang, Minggu (20/11/2005) kemarin merupakan yang pertama kali terjadi. Hal ini terjadi akibat ditutupnya gorong-gorong saluran pembuangan air untuk proyek pembangunan flyover yang terletak di Jalan Kolonel Sugiyono. Sementara itu, saat dihubungi wartawan di Balai Kota Malang, Sekretaris Satkorlak Penanganan Bencana dan Pengungsi (PBP) Kota Malang, Hari Yudanto menyimpulkan, penyebab banjir yang terjadi kemarin, selain karena hujan yang turun dengan deras, juga karena banyak saluran air yang tersumbat sampah. Akibatnya, air hujan tidak bisa mengalir. "Saat ini Pemkot Malang menetapkan stastus Siaga III bencana banjir. Status ini ditetapkan berdasarkan informasi cuaca yang didapat dari Lanud Juanda Surabaya yang berisikan curah hujan dalam tiga hari mendatang masih cukup tinggi,"tandas Hari Yudanto.
(nrl/)











































