Listrik Mikro, Alternatif Masa Depan
Senin, 21 Nov 2005 17:21 WIB
Den Haag - Jaringan listrik mikro (mikrogrid) akan menjadi alternatif sistem kelistrikan dari yang selama ini dikenal. Mikrogrid juga lebih ramah lingkungan.Hal itu dikemukakan Muhammad Reza, kandidat Phd pada Universitas Teknologi Delft, dalam konferensi internasional pertama "Future Power Systems 2005, Sistem Kelistrikan Masa Depan 2005", yang digelar di Crowne Plaza Hotel, Schiphol, 16-18/11/2005. Melalui email yang diterima detikcom, 21/11/2005, Reza menceritakan konferensi itu didorong oleh krisis BBM yang melanda dunia saat ini. Sekitar 300 ahli dan praktisi ketenagalistrikan dari 40 negara berkumpul untuk mempresentasikan dan mendiskusikan peluang dan perkembangan terbaru dari pembangkitan listrik tenaga alternatif yang terbarukan.Berbagai potensi pembangkitan berbasis tenaga angin, matahari, panas bumi, ombak, biomassa, dan lain-lain di dunia dipaparkan. "Dan yang terpenting, sebagai spesialis di bidang tenaga listrik, presentasi dan diskusi difokuskan pada antisipasi berbagai potensi yang mungkin timbul dari implementasi pembangkit energi alternatif ini terhadap kualitas sistem kelistrikan yang telah ada," kata Reza.Reza yang mempresentasikan tiga makalah ilmiah, menjelaskan bahwa terutama di Eropa, pengembangan pembangkit listrik dari energi alternatif (terbarukan) diprediksi akan mengarah pada berkembangnya jaringan mikrogrid. Pada sistem 'tradisional' yang umum dikenal saat ini (PLN), hanya konsumen listrik saja yang terhubung ke jaringan distribusi listrik. Di masa depan, diprediksi bahwa yang tersambung ke jaringan distribusi listrik itu selain konsumen listrik juga sekaligus produsen listrik, dalam skala kecil tadi. Ilustrasinya, kata Reza, pada saat rumahtinggal dilengkapi dengan panel surya, maka rumahtinggal tersebut tidak hanya berfungsi sebagai konsumen listrik tetapi juga dapat berfungsi sebagai produsen listrik. "Ketika semakin banyak konsumen listrik yang beralih untuk juga menjadi produsen, pada akhirnya jaringan-jaringan distribusi listrik akan berrevolusi menjadi jaringan listrik di mana produksi tenaga listrik internal di jaringan distribusi tersebut dapat memenuhi kebutuhan konsumennya," papar Reza. Pada situasi tersebut, jaringan distribusi listrik itu bisa beroperasi secara independen, dalam arti tidak bergantung pada jaringan transmisi listrik tegangan tinggi ala PLN saat ini. Dapat dibayangkan bahwa pada satu komplek perumahan, tiap-tiap rumahtangga dilengkapi dengan panel surya dan turbin gas mini, sehingga kebutuhan konsumsi listrik di komplek perumahan dapat terpenuhi dari pembangkit tenaga surya ini. Pada kondisi itulah, jaringan distribusi listrik tersebut telah bertransformasi menjadi jaringan listrik mikro.Di Eropa, terkait dengan opini publik yang sangat kuat tentang kelestarian lingkungan, diperkirakan pembangkitan listrik skala kecil akan sangat berkembang pada konsumen-konsumen listrik, dalam bentuk panel surya, generator bertenaga biodisel, turbin gas mikro, dll. Pada gilirannya, revolusi perubahan sistem kelistrikan raksasa di Eropa untuk menjadi jaringan-jaringan mikro hanya tinggal menunggu waktu.Bagaimana dengan Indonesia? Reza, yang asal Kota Kembang ini menjelaskan bahwa justru di Indonesia, pengembangan jaringan listrik mikro dapat menjadi alternatif yang penting dalam pengembangan sistem listrik secara keseluruhan. Menurut Reza, ada dua masalah pokok yang dapat dijawab dengan pengembangan jaringan listrik mikro ini. Pertama, pada daerah-daerah terpencil, pengadaan listrik dalam bentuk jaringan mikro dapat lebih mudah dan murah untuk dilakukan daripada membangun tiang-tiang raksasa dan jaringan kawat dalam jarak yang jauh untuk mengakses daerah terpencil tersebut. Kedua, pada daerah perkotaan, pengadaan listrik dalam bentuk jaringan mikro memungkinkan terlibatnya konsumen untuk secara aktif memenuhi kenaikan permintaan atas beban listrik, sehigga beban perusahaan listrik negara untuk mengadakan suplai tambahan atas kenaikan beban tersebut dapat dikurangi.
(es/)











































