Ratusan Eks Karyawan Rimba Sunkyong Tagih Tunggakan Gaji
Senin, 21 Nov 2005 15:47 WIB
Padang - Ratusan mantan karyawan PT Rimba Sunkyong kembali melakukan aksi demonstrasi menuntut sisa gaji mereka yang tak kunjung dibayar oleh perusahaan kayu yang dinyatakan bangkrut sejak beberapa waktu lalu itu. Demo kali ini digelar di halaman kantor Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Jalan Sudirman, Senin, (21/11/2005).Dengan mengendarai sepeda motor, para demonstran itu tiba di kantor gubernur sekitar pukul 10.00 WIB. Seperti sejumlah aksi yang digelar sebelumnya, dalam aksi kali ini mereka menuntut agar pihak perusahaan segera membayar sisa gaji mereka yang jumlahnya mencapai Rp 2 miliar.Walikota Padang, Fauzi Bahar, yang berada di lokasi demo untuk memfasilitasi pertemuan antara manajemen PT Rimba Sunkyong dengan mantan karyawanya itu berjanji akan berusaha menuntaskan perselisihan tersebut paling lama dalam waktu satu bulan. "Pihak perusahaan sudah berjanji akan menyerahkan cek senilai Rp 500 juta hari ini dan akan membayar sisanya paling lama dalam waktu satu bulan," ujarnya.Sementara itu, Ketua Serikat Pekerja PT Rimba Sunkyong, Bujang Paman, kepada detikcom di lokasi demo mengatakan, pihaknya meragukan janji tersebut akan dipatuhi oleh manajemen perusahaan. "Mereka sudah sering tidak menepati janji, bahkan janji yang dibuat dengan menggunakan materai sekalipun. Bila memang perusahaan tak punya uang, kami minta agar aset yang ada dilelang untuk melunasi sisa gaji kami," bebernya.Dikatakan Bujang, ketika perusahaan yang pernah mem-PHK sekitar 1050 karyawannya itu dinyatakan bangkrut, PT Rimba Sunkyong masih menunggak 3 bulan gaji lagi pada ribuan karyawannya. Di samping itu, perusahaan juga menunggak premi asuransi tenaga kerja selama setahun. Setelah beberapa kali didemo, perusahaan akhirnya membayar 2 bulan gaji pokok tanpa tunjangan transpor dan insentif lainnya."Hasil keringat kami selama satu bulan terakhir sama sekali belum dibayar. Bila ditambahkan dengan sejumlah tunjangan yang disepakati dalam kontrak, total uang kami yang belum dibayar mencapai Rp 2 miliar," demikian Bujang Paman.
(nrl/)











































