Beberkan Rahasia JI, Nasir Abas Tak Takut Dicap Pengkhianat

Beberkan Rahasia JI, Nasir Abas Tak Takut Dicap Pengkhianat

- detikNews
Senin, 21 Nov 2005 15:40 WIB
Yogyakarta - Nasir Abas adalah eks Ketua Mantiqi III JI (wilayah Sabah, Mindanao, dan Poso). Namun dia memutuskan keluar dari JI pada 2003. Setelah itu, dia banyak 'bernyanyi'. Bahkan dia telah merilis buku bertajuk "Membongkar Jamaah Islamiyah; Pengakuan Mantan Anggota JI". "Saya tak takut dicap pengkhianat," tegasnya usai berdiskusi tentang bukunya yang ini digelar di gedung Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jl Laksda Adisucipto Yogyakarta, Senin (21/11/2005). Nama Nasir Abas belakangan ini kembali jadi buah bibir setelah kasus bom Bali II dan tewasnya Azahari. Kakak ipar Muklas, terpidana mati bom Bali I, ini sering tampil di televisi dan media cetak. Nasir keluar dari JI dua tahun silam. Kini, setiap ditanya perkembangan JI, dia lebih banyak menjawab tidak tahu.Misalnya saat ditanya apa benar aksi teror Azahari didanai oleh diplomat asing dan simpatisan dari Malaysia, Nasri mengaku tidak tahu. Setahunya, saat masih bergabung JI, dana diperoleh dari pimpinan JI sendiri."Kalau dulu itu dari atasan saya, selebihnya setelah itu tidak tahu. Dan kalau sekarang ada pendanaan dari diplomat asing, saya juga tidak tahu," pria yang tersisir klimis ini.Nasir juga ditanya soal bom bunuh diri. Menurutnya, memang ada sebagian anggota JI yang menginginkan atau setuju dengan aksi bom bunuh diri. Namun, Nasir berpendapat bahwa aksi bom di tempat orang sipil bukanlah jihad. Aksi bom di komunitas sipil adalah berbuat kerusakan, dan bukan membela agama atau umat Islam.Jadi, tegas Nasir, jika aksi pemboman itu dilakukan berdasarkan ideologi atas dasar jihad dengan membenarkan melakukan pembunuhan orang sipil, maka paham seperti itu adalah sesat. "Berdasarakan pengalaman saya berjihad di Afghanistan maupun di Moro, jihad dengan cara seperti itu selain sesat juga keliru. Tapi memang ada sebagian anggota (JI) yang menginginkan atau setuju seperti itu," tegas atasan Noordin M Top dan Azahari sewaktu masih di JI ini. (nrl/)


Berita Terkait