Pascatenggelamnya KM Shinpo 16, Pelayanan Penumpang Berjalan Normal

Angga Laraspati - detikNews
Rabu, 18 Des 2019 22:56 WIB
Foto: Dok. Kemenhub
Jakarta - Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan memastikan, pascatenggelamnya KM Shinpo 16, pelayanan pelabuhan, khususnya penanganan penumpang di dermaga Pelabuhan Lewoleba, NTT, berjalan normal.

Kepala Kantor KSOP Kelas III Kupang Aprianus Hangki menjelaskan musibah tenggelamnya kapal KM Shinpo 16 di dermaga Pelabuhan Lewoleba mengganggu proses embarkasi/debarkasi penumpang, terutama bagi kapal-kapal yang dioperasikan oleh PT Pelni (Persero) yang tidak dapat sandar di dermaga Pelabuhan Lewoleba.

Terlebih saat ini telah memasuki masa angkutan Natal 2019 dan tahun baru 2020 sehingga terdapat beberapa jadwal kunjungan kapal PT Pelni dengan tujuan Pelabuhan Lewoleba, antara lain KM Umsini, KM Bukit Siguntang, KM Sirimau, dan KM Lambelu.


"Dari aspek keselamatan dan keamanan bagi kapal-kapal milik PT Pelni yang akan menaikkan/menurunkan penumpang di Pelabuhan Lewoleba, maka proses tersebut di atas harus dilakukan menggunakan kapal rede dengan lokasi jarak aman untuk lego jangkar dari sisi dermaga Pelabuhan Lewoleba berjarak ± 1 mil," jelas Hangki dalam keterangan tertulis, Rabu (18/12/2019).

Untuk mengatasi hal tersebut, Direktur Jenderal Perhubungan Laut R Agus H Purnomo telah memerintahkan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Kupang untuk melakukan koordinasi dan memberikan asistensi kepada Kantor UPP Kelas III Lewoleba dalam penanganan penyingkiran kerangka kapal KM Shinpo 16 serta pengaturan proses embarkasi/debarkasi penumpang kapal yang dioperasikan oleh PT Pelni.

Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut Ditjen Perhubungan Laut juga mengirimkan dua unit kapal rede untuk kegiatan bantuan kapal angkutan bandar di pelabuhan Lewoleba, yaitu kapal KM Gandha Nusantara 12 dan kapal KM Gandha Nusantara 20 yang direncanakan tiba di Pelabuhan Lewoleba pada Sabtu, 21 Desember 2019.

"Sementara kedua kapal tersebut belum tiba di Pelabuhan Lewoleba, tim melakukan langkah-langkah antisipasi dan alternatif dengan mencari beberapa perbantuan kapal angkutan laut untuk dapat dipergunakan sebagai kapal rede, di antaranya adalah pengerahan kapal negara Kenavigasian dari Disnav Kupang," kata Hangki.

Selain itu, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lembata dan pihak operator angkutan laut swasta yang beroperasi di Pelabuhan Lewoleba untuk mendapatkan bantuan kapal rede.

Kapal tersebut antara lain kapal jenis pariwisata milik Pemerintah Kabupaten Lembata dengan kapasitas kurang-lebih 30 penumpang dan Kapal HSC Lembata Karya milik swasta dengan kapasitas 150 penumpang.

Proses embarkasi/debarkasi penumpang itu sendiri dilakukan dari dan ke atas kapal milik PT Pelni, yang sebelumnya telah ditempatkan Kapal SPOB Sembilan Pilar yang memiliki tinggi geladak dari batas air ± 2 meter dan Kapal SPOB tersebut sekaligus juga akan dipergunakan sebagai dermaga apung sementara sehingga akan mempermudah dan memperlancar proses embarkasi/debarkasi penumpang serta menjamin keselamatan dan keamanan penumpang.


Lebih lanjut, kantor KSOP Kelas III Kupang juga akan menempatkan petugas marine inspector dan petugas kesyahbandaran secara bergantian untuk membantu proses kegiatan pengawasan embarkasi/debarkasi penumpang kapal Pelni selama angkutan Natal 2019 dan tahun baru 2020 pada Pelabuhan Lewoleba.

Kemudian Kantor KSOP Kelas III Kupang mengirimkan Tim yang terdiri dari Aprianus Hangki selaku Kepala Kantor, Capt Gunawan Parlindungan Aritonang selaku Kepala Seksi Status Hukum dan Sertifikasi Kapal, dan Fadly Afand Djafar selaku fungsional umum, untuk melakukan koordinasi dan asistensi pada Kantor UPP Kelas III Lewoleba.

Sebagai informasi, KM Shinpo 16 tenggelam pada 10 Desember 2019. Tim KSOP Kelas III Kupang langsung berkoordinasi bersama pihak-pihak terkait antara lain Kepala Kantor UPP Kelas III Larantuka, Dinas Perhubungan Kabupaten Lembata, DANPOSAL Lewoleba, perwakilan pemilik kapal KM Maju 8 milik PT Mandiri Nusantara Sakti, perwakilan Perusahaan Salvage dari PT United Sub Sea Service Indonesia, dan PT Pelni (Persero) Cabang Larantuka untuk Pelabuhan Lewoleba dan melakukan pemantauan langsung ke lokasi tenggelamnya Kapal KM Shinpo 16 di Dermaga Pelabuhan Lewoleba.

Pemilik kapal KM Shinpo 16 juga telah menunjuk perusahaan Salvage PT United Sub Sea Service Indonesia untuk melaksanakan prasurvei di lokasi tenggelamnya kapal.

Hangki menyebutkan proses penyingkiran kerangka kapal membutuhkan waktu lebih dari 30 hari. Kemudian pihaknya menyarankan untuk segera melakukan penutupan lubang ventilasi udara tangki bahan bakar sebanyak 12 titik dan memasang penandaan tanda bahaya di haluan serta buritan kapal agar dilakukan secepatnya dan guna mengatasi timbulnya pencemaran akibat tenggelamnya kapal KM Shinpo 16.

"Kami juga telah meminta pemilik kapal untuk segera memasang peralatan pencegahan pencemaran tumpahan minyak (oil boom)," pungkas Hangki. (prf/ega)