Charoen Pokphan-ITB Kembangkan Mesin Pengering Jagung

Mukhlis Dinillah - detikNews
Selasa, 17 Des 2019 20:34 WIB
Foto: Mukhlis Dinillah
Jakarta -

PT Charoen Pokphand Indonesia menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam pengembangan teknologi mesin pengering jagung atau mobile corn dryer. Nantinya prototipe pengembangan mobile corn dryer diharapkan bisa diproduksi massal di Indonesia. Penandatanganan kerja sama ini dilakukan Presiden Komisaris PT Charoen Pokphand Indonesia Hadi Gunawan dengan Rektor ITB Kadarsah Suryadi.

VP Enginering dan Teknologi PT Charoen Pokphand Indonesia Emier Shandy mengatakan hadirnya mesin pengering jagung ini menjawab keresahan petani jagung. Petani kerap mengeluhkan harga jual jagung yang rendah karena menurunnya kualitas panen.

"Saat ini problem utama petani jagung pascapanen. Panen jagung saat kadar air masih 30 - 35 persen Jadi masalah itu, jagung jadi tak bisa tahan lama. Penurunan mutu bisa terjadi dalam satu hari. Saat kualitas turun harga turun," kata Emier kepada wartawan di Gedung Rektorat, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Selasa (17/12/2019).

Ia menuturkan selama ini petani mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan hasil panen. Namun, cara tersebut tak maksimal ketika memasuki musim hujan. Sehingga, petani terpaksa menjual hasil panennya dengan harga murah.

"Mereka mau nggak mau jual saat itu juga kalau hujan. Apalagi kan masa panen gitu jualnya bersamaan, akhirnya murah. Kalau ada mesin pengering ini, mereka tetap bisa mengeringkan jagungnya walaupun hujan. Jadi bisa dijualnya saat sudah tidak masa panen, Karen masa simpan lebih lama," tutur dia.

Dia menjelaskan saat ini pihaknya sudah memiliki beberapa prototipe mobile cord dryer yang bisa dimanfaatkan hingga ke desa-desa. Setiap jamnya, mesin ini bisa mengeringkan satu ton jagung dengan perkiraan pengurangan kadar air 10 - 15 persen.

"Asumsinya kalau sehari bisa 20 jam, artinya 20 ton per hari jagung bisa dikeringkan. Jadi gak perlu lagi bergantung ke alam. Nantinya bisa dikelola petaninya langsung atau koperasi," jelas dia.

Menurutnya pihaknya mengembangkan mobile corn dryer ini sejak awal 2018 lalu. Pihaknya masih menemukan sejumlah kekurangan mulai dari penggunaan bahan bakar tinggi, dimensi yang terlalu besar hingga nilai investasi mencapai Rp 1,3 miliar per unitnya.

Melihat hal itu, pihaknya menggandeng ITB dalam pengembangan mobile corn dryer. Pihaknya menginginkan adanya efisiensi dalam urusan operasional, investasi. Namun, terjadi peningkatan produktivitas.

"ITB kan punya kelebihan dari sisi teknologinya. Kita tahap awal pengembangan fokus peningkatan peoduktivitas, bahan bakar irit dan biaya investasi rendah. Setelah itu 4.0 ini fokus mencoba mengembangkan teknologi lebih lanjut, user friendly, kecerdasan buatan juga diterapkan," tutur dia.

Ia mengaku pihaknya tidak akan memproduksi massal mobile corn dryer. Nantinya, prototipe hasil pengembangan dengan ITB akan ditawarkan ke pemerintah pusat untuk diproduksi massal demi kebutuhan petani di tanah air.

"Kita tidak mengkomersialkan, tapi diserahkan ke pemerintah untuk diproduksi massal. Ini sumbangsih kita untuk negara," ujar Emier.

Rektor ITB Kadarsah menyambut baik kerja sama ini. Pihaknya menyadari kolaborasi antara industri dan kampus sangat diperlukan dalam berbagai pengembangan terutama dalam hal ini sektor teknologi.

"Kita sangat menyambut baik kerja sama ini. Karena percuma kalau kampus penelitian saja tanpa kerja sama dengan industri percuma, hasilnya tidak terlihat," kata Kadarsah.



(mul/ega)