Viral Siswa Ranking 3 Dimarahi, Kemdikbud Bicara Program 'Merdeka Belajar'

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Senin, 16 Des 2019 14:24 WIB
Ilustrasi anak dimarahi (Foto: istock)
Jakarta - Video seorang siswa SD dimarahi sang ibu karena meraih ranking 3 viral di media sosial dan belakangan ibunya minta maaf. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) berpendapat fenomena ini terjadi karena adanya tekanan orang tua hebat bila anak juara kelas.

"Ini sebenarnya salah satu bentuk atau kondisi stres yang banyak terjadi di masyarakat kita seperti yang tersebut di atas," kata Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Ade Erlangga saat dihubungi, Rabu (16/12/2019).

"Stress atau tekanan atau pemaksaan yang kurang bermanfaat tidak hanya terjadi (di) guru, tapi juga berdampak pada orang tua, yang ingin memperoleh status orang tua yang berhasil atau hebat, bila anaknya memperoleh juara kelas, dan lain-lain," sambungnya


Ade mengatakan saat ini Kemdikbud telah mengembangkan kebijakan 'Merdeka Belajar'. Kebijakan ini mencakup soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), penggantian sistem Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan sistem Zonasi.

"Oleh karena itu Kemendikbud mengembangkan pesan utama yakni kemerdekaan belajar dengan mengeluarkan kebijakan baru tahap pertama seperti, penghapusan USBN, mengganti UN tahun 2021 dengan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter yang diselenggarakan kepada siswa kelas 4,8,11 untuk melakukan pemetaan," jelas Ade.

"Lalu kebijakan ketiga adalah tentang Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang selama ini memberatkan para guru. Dan keempat, tentang zonasi," sambungnya.



Seperti diketahui, telah beredar video seorang anak yang dimarahi ibunya karena mendapat ranking 3. Dalam video, siswi SD ini menyebutkan daftar ranking 6 besar di kelasnya. Kemudian sang ibu kembali membentak siswi itu karena hanya mendapat ranking 3.

"Kenapa kamu cuma ranking 3? Kenapa bisa? Kenapa bisa hah? Kenapa bisa?" tanya sang ibu.

Setelah video tersebut beredar, kemudian sang ibu pun mengaku khilaf dan meminta maaf kepada pihak sekolah. Video klarifikasi ibu yang memarahi anaknya ini diunggah di akun Instagram @berauterkini.

"Itu hanya kekhilafan saya. Jadi saya mau membuat permintaan maaf pada orang-orang yang bersangkutan, seperti bapak kepala sekolah SD, ibu wali kelas anak saya. Saya benar-benar tidak ada niat untuk membuat video yang memviralkan," ucap ibu tersebut.

"Saya mengaku salah, saya khilaf," sambungnya.




Tonton juga video UN Dihapus, Anggarannya Buat Apa?:

[Gambas:Video 20detik]



(imk/imk)