Ini Kendala Polri Buru Ali Kalora Cs di Sulteng

Audrey Santoso - detikNews
Senin, 16 Des 2019 11:52 WIB
Foto: Grandyos Zafna/ILUSTRASI
Jakarta - Pemimpin kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Ali Kalora, masih berkeliaran dan menebar teror di wilayah Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Polri membeberkan kendala memburu Ali Kalora dan kelompoknya yakni adanya blank spot area di pegunungan karena kondisi geografis setempat yang sulit dijangkau.

"Ini hanya persoalan waktu (untuk menangkap Ali Kalora), mohon doa biar secepatnya terungkap perkara ini. Di sana (Poso) kan ada sebuah situasi geografis yang tak ringan. Ada blank spot area yang kemudian juga sekali lagi secara geografis sulit dijangkau," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di Gedung Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (16/12/2019).

Asep menyebut kendala tersebut sebagai tantangan bagi Satgas Tinombala. "Bukan kendala tapi lebih ke tantangan karena setiap medan berbeda-beda," lanjut dia.

Asep menuturkan Satgas Tinombala semakin serius melakukan pengejaran pasca-penembakan anggota Brimob, Bharatu Muhammad Saepul Muhdori oleh Ali Kalora Cs. Meski tak menambah jumlah personel, Asep menuturkan satgas meningkatkan kewaspadaan.





"Jadi perpanjangan waktu Operasi Tinombala ini, lalu ada kejadian ini (penembakan anggota Brimob), pasti lebih serius lagi mengejar kelompok ini. Sementara ini kita masih gunakan waktu yang ada. Perpanjangan nanti kita lihat. Kekuatan masih kaya kemarin, belum ada penambahan, tapi kewaspadaan ditingkatkan," ucap dia.

Sebelumnya diberitakan anggota Brimob Polri yang tergabung dalam Operasi Tinombala IV, Bharatu Muhammad Saepul Muhdori, tewas ditembak orang tak dikenal. Polisi mengidentifikasi pelakunya adalah kelompok radikal Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora, yang selama ini diburu oleh aparat.




Penembakan terjadi pada Jumat 13 Desember 2019, pukul 12.30 Wita di Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Mautong, Sulteng. Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono menceritakan awal terjadinya serangan usai Bharatu Muhammad menunaikan salat Jumat di musalah desa.

Penyerangan yang dilakukan Ali Kalora tak hanya pekan lalu. Jauh hari sebelumnya, dua warga yang merupakan ayah dan anak ditemukan tewas mengenaskan pada Selasa (25/6) pagi. Korban bernama Tamar (50) dan Patte (27) diduga menjadi korban Ali Kalora Cs.

Jasad kedua korban ditemukan sekitar 10 meter dari jarak pondok korban di pegunungan Tokasa, Dusun Tokasa, Desa Tanah Lanto, Kecamatan Torue, Parigi Moutong. Korban pertama kali ditemukan oleh warga di Desa Tanah Lanto bersama Unit Reskrim Polres Parigi Moutong dan aparat yang tergabung Operasi Tinombala saat menerima laporan adanya orang hilang saat pergi ke kebun pada (24/6).

Kelompok Ali Kalora juga terlibat baku tembak beberapa kali dengan Satgas Tinombala. Pada Minggu (3/3) sore, baku tembak itu terjadi setelah Satgas Tinombala menerima laporan masyarakat ada 5 orang DPO MIT yang beristirahat di sebuah pondok di pegunungan area Desa Padopi, Poso Pesisir Selatan, Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng).

"Dalam kejadian kontak tembak tersebut telah tertembak satu orang DPO atas nama Basir alias Romzi," kata Asisten bidang Operasi Kapolri, Irjen Rudy Sufahriadi di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (4/3).

Basir, dijelaskan Rudy, merupakan daftar pencarian porang (DPO) yang diburu sejak dirinya menjadi Kapolda Sulteng. Basir merupakan rekrutan yang berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di akhir 2018, kelompok Ali Kalora menebar teror dengan memenggal kepala warga di Parigi Moutong dan menembaki polisi yang sedang mengevakuasi jasad korban. (aud/fdn)