Menang Kategori Wheelchair, BPJAMSOSTEK Beri Momentum Buat Difabel

Yakob Arfin - detikNews
Minggu, 15 Des 2019 10:42 WIB
Foto: Yakob Arfin
Foto: Yakob Arfin
Jakarta - BPJS Ketenagakerjaan yang kini bertransformasi menjadi BPJAMSOSTEK menyelenggarakan Relay Marathon tahun 2019 yang digelar di kawasan Epicentrum Kuningan, Jakarta. Tak hanya diramaikan oleh 5.000 pelari, gelaran ini juga diikuti oleh 100 peserta difabel yang mengisi kategori Wheelchair 4.2K.

Baharudin, salah satu peserta difabel yang tergabung dalam wadah nasional Paralimpic Komite ini berhasil menembus rekor waktu tempuh tercepat yaitu 13,71 menit.

"Tadi saya berhasil menyelesaikan jarak 4,2 kilometer dalam waktu 13,71 menit. Dan Alhamdulillah jadi yang paling pertama sampai di garis finish," kata Baharudin kepada detikcom, Minggu (15/12/2019).

Ia mengatakan dirinya telah terbiasa mengikuti kompetisi serupa untuk kategori Wheelchair. Jarak tempuh terjauh yang pernah ia lalui yaitu 10K yaitu di Solo dan di Bogor.


"Saya biasa ikut lomba seperti ini. Biasanya saya bisa selesai dalam waktu 11 menit saja, tapi kali ini agak melambat 13 menitan," jelasnya.

Ia pun mengungkapkan Relay Marathon tahun 2019 ini jadi salah satu momentum yang ia gunakan untuk melatih fisik dan uji daya tahan jelang Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan digelar pada September nanti.

"Nanti saya akan ikut PON pada bulan September nanti. Jadi lomba kali ini saya jadikan sebagai kesempatan untuk melatih daya tahan saya," ungkapnya.

Pemenang Kategori Wheelchair BPJAMSOSTEK Relay MarathonPemenang Kategori Wheelchair BPJAMSOSTEK Relay Marathon Foto: Yakob Arfin


Untuk mengikuti lomba lari kali ini, ia melakukan sejumlah latihan yakni melakukan sprint 100 meter dan sprint 200 meter.

Burhanudin mengungkapkan salah satu kendala yang ia jumpai saat relay adalah kontur jalan yang tak rata, sehingga cukup menyulitkan dirinya dan sesame peserta difabel untuk melaju dengan baik.

"Saya berharap untuk kategori difabel, kondisi jalan juga disiapkan dengan lebih baik, lebih halus dan tak bergelombang, supaya kami bisa lebih maksimal dan konsentrasi saat memutar roda dengan kedua tangan kami," ungkapnya.

Tak hanya Burhanudin, peserta difabel untuk kategori Wheelchair yang juga ikut meramaikan Relay Marathon 2019 ini adalah Eko Wibowo. Anggota komunitas Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) ini juga rutin mengikuti gelaran serupa sejak tahun 90-an.

"Saya aktif ikut untuk kategori kursi roda sejak tahun 1990-an. Dulu pernah ikut untuk jarak yang 10k saat di Yogyakarta Hamengkubuwono Cup," kata Eko.


Pada lomba kali ini ia mengaku tak mencapai target sebagai pemecah rekor, karena dirinya lupa membawa sarung tangan sebagai perlengkapan utama.

"Saya tadi kalah, karena telapak tangan saya lecet. Saya lupa bawa sarung tangan dan kulit tangan saya jadi terkelupas. Saya memutar roda jadi tak maksimal," ungkap Eko.

Untuk mengikuti lomba ini, Eko mengaku melakukan persiapan khusus, khususnya latihan fisik seperti angkat barbel.

"Latihan angkat beban sederhana yaitu barbel, dan belajar mengayuh memutar roda pakai tangan agar kuat saat di jalanan," imbuhnya.

Ia pun berharap acara Relay Marathon ini diselenggarakan lagi pada tahun mendatang. Gelaran olahraga lari yang digelar BPJAMSOSTEK ini, dapat menjadi salah satu momentum bagi para penyintas disabilitas untuk berkumpul dan olahraga bersama.

(ujm/ujm)