Pendidikan RI Dinilai Tak Mampu Ciptakan Nalar Kritis, Ini Kata Kemendikbud

Eva Safitri - detikNews
Minggu, 15 Des 2019 06:36 WIB
Kabiro Komunikasi dan Layanan Masyarakat, Ade Erlangga Masdiana (Foto:Farih detikcom
Jakarta - Pihak Kemendikbud sepakat dengan Staf khusus Presiden Joko Widodo (Jokowi), Aminuddin Ma'ruf yang menilai dunia pendidikan di Indonesia belum mampu menciptakan nalar kritis siswa. Untuk menciptakannya, karena itulah Kemendikbud mengganti kebijakan Ujian Nasional (UN) menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.

"Memang, benar bahwa kita perlu melakukan perubahan di dunia pendidikan. Oleh karena itu, kemendikbud mengeluarkan kebijakan dengan moto 'merdeka belajar'. Kemdikbud melakukan kebijakan baru antara lain seperti pada tahun 2021 tidak ada lagi Ujian Nasional dengan pola sekarang, tapi bentuknya adalah asesmen untuk memetakan kompetensi minimum dan karakter," kata Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud, Ade Erlangga Masdiana kepada wartawan, Minggu (15/12/2019).

"Dunia pendidikan yang kita rasakan sekarang masih mengemuka soal hafalan, atifisial, dan kurang mengedepankan penalaran atau analisis," imbuhnya.


Ade menilai wajar jika saat ini nalar kritis peserta didik yang tidak berkembang. Hal itu, sebut dia, lantaran anak tidak diberikan kebebasan dalam mempelajari suatu hal.

"Jati diri atau kemerdekaan belajar dan variabilitas di sekolah kurang dikembangkan, sehingga peserta didik cenderung dipaksa untuk berpikir linear, mengikuti kondisi yang ada, kurang berkarakter atau kurang berani untuk mengembangkan dirinya atau berkreasi, atau kurang diciptakan variabilitas untuk memilih atau mengembangkan potensinya," ucapnya.
Selanjutnya
Halaman
1 2