Arman Diduga Nama Lain Pemuda Asal Ngawi

Arman Diduga Nama Lain Pemuda Asal Ngawi

- detikNews
Minggu, 20 Nov 2005 19:12 WIB
Sukoharjo - Arman, yang tewas bersama Dr Azahari dalam penggerebekan polisi di Malang beberapa waktu yang lalu adalah sebuah nama samaran. Beredar dugaan bahwa dia adalah seorang pemuda asal Ngawi dengan inisial nama AP, mahasiswa sebuah perguruan tinggi agama di Solo yang menghilang sejak Agustus lalu.AP selama kuliah di Solo menumpang di rumah pamannya di Cemani Baru RT 10, RW XV, Grogol, Sukoharjo. Ketua RT setempat membenarkan bahwa pemuda kelahiran tahun 1981 tersebut memang tinggal di daerahnya. Bahkan namanya juga dicantumkan dalam kartu keluarga (KK) sang paman yang berinisial Haji AM.Saat berusaha menemui paman AP di rumahnya yang cukup besar berlantai dua di perkampungan padat hunian itu, Minggu (20/11/2005), wartawan hanya ditemui seorang permpuan paruh baya. Ketika ditanyakan apakah AP berada di rumah, perempuan itu mengatakan AP telah lama pergi dan sekarang sudah ada yang mengurusi.Menurut Sartono, keluarga paman AP yang tinggal di Jalan Gatotkoco, Cemani Baru, memiliki dua orang anak kandung serta dua keponakan yang ikut tinggal di rumah tersebut dan kesemuanya tercatat resmi dalam KK."Mereka membantu usaha pamannya yang mengelola sebuah percetakan di Solo. Selain itu AP juga masih menyelesaikan skripsinya di STAIN, Kartosuro. Tapi saya tidak berani membenarkan apakah dia Arman yang dimaksudkan oleh polisi itu, karena setahu kami namanya bukan itu," ujar Sartono.Sartono mengakui bahwa Jumat malam lalu ada lima orang mengendarai mobil kijang menemuinya di rumah. Saat itu hanya satu orang yang turun dari mobil mengaku bernama Pamuji dari Purwokerto. Tamu tersebut menanyakan apakah betul ada warganya yang bernama AP tersebut. Alasannya si tamu menemukan SIM atas nama AP."Saya membenarkannya dan setelah itu tamu tersebut pergi. Saya tidak bertanya lebih lanjut apakah dia polisi atau bukan. Tapi pagi harinya tanpa sengaja saya melihat mobil kijang silver yang malam harinya bertandang ke rumah saya, telah terparkir di depan rumah Paman AP. Saya tidak mengetahui siapa yang menemui dan apa isi pembicaraannya," papar Sartono.Saat berusaha menemui Paman AP di rumahnya yang cukup besar berlantai dua di perkampungan padat hunian itu, wartawan hanya ditemui seorang perempuan paroh baya. Ketika ditanya apakah dia AP berada di rumah, perempuan itu mengatakan AP telah lama pergi dan sekarang sudah ada yang mengurusinya. Perempuan itu tidak lagi menjelaskan maksud kata 'sudah ada yang mengurusinya' tadi. Dia hanya menambahkan bahwa AP telag pergi sejak Agustus lalu. Dia juga membenarkan Sabtu pagi lalu ada tamu datang ke rumah tersebut, namun dia segera mengelak ketika apa yang dibicarakan tamu tersebut karena dia mengaku tidak ikut menemuinya.Para tetangga mengatakan bahwa perempuan itu adalah adik dari istri AM. AM dan WP, istrinya, memang berasal dari Ngawi dan menghuni daerah itu sejak tahun 1980. Sedangkan menurut penuturan para tetangga AP adalah keponakan AP dan berasal dari daerah Walikukun, Ngawi.Selama tinggal di daerah itu, kesaksian para tetangga, AP dikenal sebagai pribadi yang hangat dan mudah bergaul. Seorang penjual mi ayam yang berjualan tepat di depan rumah AM mengatakan, AP sangat dikenal di kalangan anak-anak kecil karena selain mengajar ngaji di masjid dekat rumah pamannya, dia juga terlihat sayang terhadap anak-anak."Dia suka jajan mi di warung saya. Orangnya tinggi, kecil, kulitnya hitam, wajahnya agak lonjong. Dia bukan termasuk orang yang pendiam, apalagi terhadap anak-anak. Tidak sedikitpun memperlihatkan bahwa dia seorang yang memiliki sifat suka kekerasan. Sekitar tiga hingga empat bulan terakhir dia memang sudah tidak kelihatan di sini," papar penjual mi ayam itu.Kesaksian itu juga dibenarkan oleh sejumlah murid ngaji AP di masjid. Menurut Wahid, salah seorang dari muridnya, sejak Agustus lalu AP tidak lagi mengajar. "Kami tidak diberitahu kemana Mas AP tidak lagi mengajar. Sekarang diganti ustadz lain. Padahal cara mengajarnya enak, gampang diterima," paparnya.Ada informasi bahwa AP juga mengajar bela diri, namun sejumlah warga mengaku tidak mengetahuinya. "Saya malah baru mendengar sekarang kalau dia mengajar beladiri. Setahu kami dia hanya aktif di masjid untuk mengajar ngaji kepada anak-anak. Badannya yang kurus juga tidak menampakkan kalau dia ahli beladiri," kata warga setempat.Teman Akrab JabirApakah benar bahwa AP adalah Arman yang tewas di Malang, pejabat kepolisian setempat belum memberikan konfirmasi yang membenarkannya. Kapolwil Surakarta Kombes (Pol) Abdul Madjid) mengelak memberikan jawaban, demikian sejumlah perwira di jajaran Polwil dan Polres Sukoharjo juga masih tutup mulut dengan alasan tidak tahu.Salah satu sumber detikcom di jajaran Polwil Surakarta hanya mengatakan bahwa Arman adalah teman akrab Jabir alias Gempur Budi Angkoro, sepupu Fathurrohman Al-Ghazy, yang hingga kini masih buron. Sewaktu Jabir masih berada di Pesantren Darusy Syahadah, Boyolali, Arman sering mengunjunginya. Dia mengatakan peran Jabir cukup besar untuk menarik Arman masuk dalam jaringan Azahari Cs. Demikian juga dalam merekrut tiga pelaku bom bunuh diri di Bali awal Oktober lalu, Jabir memiliki peran yang tidak kecil. Tapi apakah Arman adalah nama lain dari AP, sumber tersebut mengaku tidak berani menjawabnya. (atq/)


Berita Terkait