200 Pendemo Tuntut BLT Distop
Minggu, 20 Nov 2005 14:13 WIB
Jakarta - Aksi protes terhadap proses pemberian dana bantuan langsung tunai (BLT) terus bergulir. 200 pendemo dari Jaringan Rakyat Miskin Kota menilai pemberian dana BLT tersebut hanya tipuan belaka bagi rakyat.Hal tersebut disampaikan dalam pernyataan sikap bersama yang ditandatangani 21 organisasi kemasyarakatan seperti Urban Poor Consorcium (UPC) dan LBH Jakarta di depan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Minggu (20/11/2005).Dalam aksi yang diwarnai hujan deras itu, para pendemo yang berjumlah 200 orang menuntut pemerintah segera menghentikan program BLT. Karena dianggap kerap memicu konflik horizontal, memperparah dan memperluas terjadinya praktek korupsi, serta telah merenggut korban nyawa dari rakyat miskin.Massa yang berasal dari perwakilan tukang becak sejabotabek, pedagang kaki lima, penduduk kampung miskin ini sebagian besar dari mereka adalah ibu-ibu yang membawa bayi serta anak-anak usia 5 sampai 10 tahun.Dalam aksinya massa mengusung empat keranda mayat sebagai simbol matinya empat warga yang menjadi korban BLT. Keranda tersebut diusung 12 orang yang menggunakan jubah hitam. Selain itu para demonstran juga mengusung spanduk yang bertuliskan tuntutan mereka di antaranya, "hentikan BLT sekarang juga", "BLT ladang korupsi baru" dan lain-lain.Salah satu tokoh tukang becak Jakarta, Muhtar (65), mengatakan pemerintah sekarang seolah-olah transparan dalam program BLT, tapi dalam kenyataannya banyak manipulasi serta kerugian di sana-sini. "Lihat saja berapa orang yang sudah mati. Belum lagi pembagiannya yang tidak merata dan tidak adil. Di kampung saya ada orang kaya yang punya sapi lima ekor tapi tetap dapat dana BLT," keluh Muhtar kepada detikcom. Muhtar juga menuntut agar dana BLT dialihkan untuk pendidikan yang berkualitas, kesehatan gratis, perlindungan untuk bekerja serta pembebasan tanah bagi kampung-kampung miskin dengan memberikan sertifikat serta KTP gratis kepada rakyat miskin.Juru bicara aksi, Budi Fahlevi, yang juga aktivis UPC mengatakan aksi ini merupakan aksi puncak dari serangkaian aksi kecil sejak 14 November 2005 di depan Istana Negara."Kami kurang lebih sudah seminggu menggelar aksi piket yang diwakili oleh kampung-kampung miskin di Jakarta. Hari ini adalah puncaknya dan rencananya kami akan memulai lagi aksi baru secara terus menerus sampai tuntutan direalisasikan," ujar Budi.Aksi demonstrasi ini berlangsung sekitar pukul 11.45 hingga 13.00 WIB, aksi dihadiri 200 massa dari sekitar Jabotabek. 30 Aparat dari Polres Jakarta Pusat diturunkan untuk mengamankan aksi tersebut.
(ahm/)











































