Agus M. Abegebriel di Antara Rhoma Irama dan Lotfi Bouchnak

Sudrajat - detikNews
Jumat, 13 Des 2019 17:38 WIB
Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus M Abegebriel (Montase foto: Mindra Purnomo)
Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus M Abegebriel (Montase foto: Mindra Purnomo)
Jakarta -

Duta Besar Agus Maftuh Abegebriel punya pembawaan cenderung urakan untuk ukuran seorang diplomat. Maklum, dia memang berlatar dosen dengan jam terbang hampir 30 tahun. Ada kalanya Agus bicara diplomatis, terkadang bisa juga nyablak. Saat dimintai komentar terkait aksi sejumlah mahasiswa di depan Kemenlu dan Kemenko Polhukam yang menuntut pemecatan dirinya, dia merespons enteng.

"Soal pemecatan ya siap saja jika keberadaan saya tidak ada manfaatnya untuk NKRI. Tapi memang masa tugas saya sudah lebih tiga tahun, wajar saja kalau Bapak Presiden dan Ibu Menlu mengganti saya," kata Agus kepada Tim Blak-blakan yang tayang di detik.com, Senin (9/12).

Sekelompok mahasiswa berunjuk rasa menuntut Dubes RI unuk Arab Saudi Agus M Abegebriel dicopotSekelompok mahasiswa berunjuk rasa terkait Habib Rizieq yang tak bisa pulang ke Indonesia. Mereka juga menuntut Dubes RI unuk Arab Saudi Agus M Abegebriel dicopot (Foto: Dok. Istimewa)



Soal kematian, lelaki kelahiran Semarang,
1 Oktober 1965 itu melanjutkan, sudah diajarkannya sejak TK. Bahkan setiap salat, seorang muslim selalu membaca do'a iftitah bahwa, setiap ibadah, hidup dan matinya seorang muslim sepenuhnya milik Allah. "Jadi tidak ada yang saya khawatirkan meski dalam demo tersebut juga ada poster ancaman pembunuhan diri saya," ujarnya.
Tak cuma itu. Dia lantas mengutip sebait lagu milik Raja Dangdut Rhoma Irama, "Kau yang mulai, kau yang mengakhiri". "Pada dasarnya, jabatan itu amanah. Ada awal ada akhir seperti lagu Rhoma," ujarnya diiringi tawa kecil.
Bukan cuma mengutip lagu, Agus juga memamerkan pengetahuannya yang luas dengan menyebut kitab sejarah 15 Jilid karya Ibnu Kasir, Al-Bidayah wan Nihayah (ada awal dan ada akhir).

Pakar kajian teroris internasional yang fasih berbahasa Arab itu malah lebih menyoroti kop surat yang digunakan para mahasiswa saat mengajukan pemberitahuan demo ke Polda Metro Jaya. Dia menyebut tulisan Arab dalam kop surat tersebut masuk kategori 'subversif gramatikal' alias ada kesalahan fatal dalam tata bahasa Arab.

Dosen bahasa Arab di IAIN Sunan Kalijaga pada era 1980-an itu memaparkan, pemakain kata "ar-riasah dan al-markaziy" sifat dan yang disifati (mausuf) tidak bertemu. Kedua, kata "al-jabhah at-talabah" juga salah fatal dalam gramatikal bahasa Arab (Nahwu).


"Saya sih berharap adik-adik mahasiswa belajar lebih rajin tentang dasar kajian dalam Islam sebelum masuk ke diskursus Islam yang sangat luas," ujarnya.

Dalam wawancara yang berlangsung beberapa jam sebelum dia kembali ke Riyadh itu Agus Maftuh sempat menggarisbawahi bahwa apa yang dia lakukan sebagai diplomat hanya untuk kepentingan NKRI. Duta besar yang dikenal sebagai "as-Safir al-Adib" atau "Dubes Penyair" tersebut juga menarasikan syair Lotfi Bouchnak, budayawan Tunisia, yang artinya:

Aku hanya kepingin memiliki negeri yang indah / Negeri tanpa peperangan, tanpa kehancuran, tanpa kegaduhan dan tanpa petaka / Wahai Negeriku, engkau adalah kasihku / Engkau kebanggaanku dan engkau adalah mahkotaku terindah / Engkau kebanggaan rakyat jelata, engkau juga kebanggaan para pejuang dan juga para politisi / Wahai Tanah airku, engkau paling mempesona / Engkau paling berharga dan engkau lebih agung ketimbang kursi-kursi jabatan itu.

(jat/jat)