Meski Bikin Korban Menderita, Kenapa Video Prank Terus Ada?

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 12 Des 2019 19:53 WIB
Ilustrasi prank pocong di Makassar. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi prank pocong di Makassar. (Foto: Istimewa)
Jakarta - Video-video berkonten prank bikin korbannya menderita, kadang juga memicu kemarahan. Namun tayangan jenis ini terus ada karena sistem mendukungnya. Konten prank laku karena banyak yang suka. Anda tertantang untuk membuktikan hal sebaliknya?

"Prank tujuannya cuma satu, melihat reaksi orang lain yang dijaili atau diisengi," kata pakar komunikasi digital Universitas Indonesia (UI) Firman Kurniawan kepada detikcom, Kamis (12/12/2019).


Manusia cenderung suka melihat reaksi manusia lainnya, reaksi yang tak terduga itu punya efek menghibur. Kenikmatan dari melihat reaksi orang lain ini menjadi candu. Ada dua motif video prank yang membuat jahil-jahilan itu tetap ada.

"Pertama, menyebarluaskan reaksi korban keisengan pada khalayak luas," kata Firman.


Jika reaksi korbannya menghibur, itu sama saja dengan menyebarluaskan konten hiburan. Pelaku keisengan dapat memperoleh pujian. Ini kegembiraan yang mengakibatkan kecanduan juga, baik bagi pembuatnya maupun bagi penontonnya.

Simak Video "Ingin Nge-prank Jadi Pocong? Coba Belajar dari Kasus Dua Remaja Ini"


Selanjutnya
Halaman
1 2